Halaman

Andika Wiranata

Selasa, 17 Juli 2012

Pojok Esai 3

Kemacetan di Jakarta
Oleh : Andika Wiranata

Bingung dan galau, bagaimana kita sebagai warga DKI Jakarta, memberikan suatu solusi tentang hal yang tidak pernah usai di kota ini yaitu, kemacetan. Setiap hari jumlah kendaraan pribadi semakin meningkat dan tidak dapat terbendung. Mereka yang punya uang seakan ingin langsung membeli sebuah kendaraan pribadi entah dengan cara cash atau kredit, yang tanpa mereka sadari mereka menyumbang kemacetan di kota yang merupakan ibukota dari negara Indonesia.
Pemerintah DKI Jakarta sendiri sudah mencoba berbagai macam cara bagaimana mengurangi kemacetan lalu lintas yang terjadi di Jakarta. Mulai dari proyek jalan-jalan layang, lalu monorel yang gagal karena investor tidak mau lagi mengucurkan dananya lagi, proyek busway yang diadaptasi dari kota Bogota, Kolombia, serta waterway yang tidak jelas kelanjutannya. Memang semua tidak gagal total, contohnya busway yang sampai sekarang terus diperbaiki layanannya, dan diharapakan mampu mengurangi kemacetan seperti di negara asalnya, Kolombia.
Tidak hanya dalam hal transportasi massal, Pemda DKI Jakarta juga, melakukan program three in one, yaitu mengharuskan kendaraan bermotor yaitu, mobil untuk minimal berpenumpang tiga orang bila ingin melintasi jalan-jalan besar di DKI Jakarta. Three in one ini berlaku pada jam-jam tertentu. Program ini dinilai tidak efektif dan kurang berpengaruh untuk mengurangi kemacetan di Jakarta karena hanya mencakup jalan-jalan besar di daerah kota seperti Sudirman dan Thamrin. Dari program ini pun muncul orang-orang yang menawarkan jasa untuk naik ke mobil, agar jumlah penumpang dalam mobil sesuai dengan peraturan three in one, yaitu tiga orang. Orang-orang ini dikenal dengan sebutan jockey three in one. Kendaraan pribadi merupakan suatu momok yang menakutkan bagi jalan-jalan di ibukota.
Pemerintah selain mencoba jalur darat seperti transjakarta dan program three in one, pemerintah juga mencoba jalur angkutan sungai yang disebut waterway. Proyek ini sampai saat ini, saya belum tau apakah masih berjalan atau tidak. Hal yang menyebabkan waterway ini tidak begitu lancar pengoperasiannya adalah karena kondisi sungai yang ada di Jakarta yang dipenuhi sampah, sehingga kadang laju boat atau perahu sering terhambat oleh banyaknya sampah, sehingga ketika perahu waterway jalan, petugas yang ada di perahu sambil menyingkirkan sampah-sampah yang manghalangi laju perahu tersebut. Tidak hanya sampah yang mengganggu, bau dari sampah yang ada di sungai pun sangat tidak sedap dan kadang membuat para calon penumpang mengurungkan niatnya untuk naik waterway. Seharusnya, pemerintah membersihkan kali-kali yang menjadi jalur waterway terlebih dahulu dari sampah sehingga, pengoperasian waterway menjadi maksimal.
Di samping usaha pemerintah daerah DKI Jakarta yang menggalakan proyek-proyek untuk menciptakan angkutan massal yang mampu menyerap penumpang banyak, pemerintah DKI Jakarta sebenarnya sudah punya alternatif transportasi massal yaitu, kereta listrik atau KRL. Kereta di Jakarta sangat dimanfaatkan dengan baik oleh warga DKI Jakarta. Mereka yang bekerja di Bekasi, Depok, Tangerang atau daerah-daerah di sekitarnya, mereka bisa menggunakan jenis transportasi ini untuk berpergian. Hal yang kadang menjadi keluhan calon penumpang kereta adalah sering molor dari jadwal kedatangannya, itu yang kadang menjadikan calon penumpang memikirkan hal itu dua kali, belum lagi kondisi kereta yang pastinya penuh sesak dan penumpang di atas atap kereta yang kurang aman. Satu hal yang perlu dicermati dari semua ini adalah seharusnya pemerintah menambah jumlah gerbong-gerbong kereta ini agar penumpang lebih nyaman dan memilih kereta sebagai transportasi massal favorit mereka. Lalu, untuk menambah kenyamanan kaum hawa, Pemda DKI juga menyediakan kereta atau gerbong khusus wanita.
Transjakarta juga sekarang sudah mulai mendapatkan hati dari sebagian penduduk DKI Jakarta, karena tarif tiketnya yang cukup terjangkau. Tapi, bukan berarti tanpa keluhan, bus yang mempunyai jalur sendiri ini, terkadang jalurnya diambil oleh kendaraan bermotor lainnya dan akhirnya bus transjakarta juga terjebak macet. Di awal penggarapannya, transjakarta dianggap pemicu kemacetan karena mereka mengambil sebagian jalan untuk jalur transjakarta. Belum lagi yang membuat jengah adalah armada transjakarta yang masih dirasakan kurang oleh para penumpang sehingga penumpang harus menunggu lama di waktu transit hingga berjam-jam, dan sesak-sesakan yang tentu memicu tindak kriminal seperti, aksi copet, dan pelecehan seksual yang sering dialami wanita. Untuk meminimalisir tindak pelecehan seksual terhadap wanita, penyelenggara transjakarta pun sekarang memisah antrian pria dan wanita, tidak hanya antrian tapi, juga ruangan di dalam transjakarta dibagi dua, bagian depan untuk wanita dan bagian belakang untuk pria.
 Proyek pemerintah yang terbaru adalah MRT. Apa itu MRT? MRT adalah singkatan dari Mass Rapid Transit. Proyek ini diharapkan mampu mengangkut penumpang dengan jumlah yang banyak dan dengan waktu yang singkat sampai tujuan. MRT meliputi : BRT (Bus Rapid Transit), LRT (Light Rail Transit) yaitu kereta api rel listrik, yang dioperasikan menggunakan kereta atau gerbong pendek seperti monorel, dan Heavy Rail Transit yang memiliki kapasitas besar seperti kereta Jabodetabek yang ada saat ini. Manfaat dari MRT ini selain untuk mengurangi jumlah kemacetan dan penggunaan kendaraan pribadi, juga membuka lapangan pekerjaan yang mampu menyerap jumlah pekerja yang cukup banyak serta, mengurangi polusi udara yang disebabkan oleh banyaknya kendaraan pribadi. Namun, proyek ini masih sangat lama dapat kita rasakan karena MRT koridor pertama yang menghubungkan Lebak Bulus-Bundaran HI baru diperkirakan beroperasi pada tahun 2016.
Hal-hal lain penyebab kemacetan selain penggunaan kendaraan pribadi diantaranya, kredit untuk memiliki kendaraan bermotor yang mudah, lalu hadiah-hadiah dari suatu produk atau bank untuk memikat konsumen atau nasabah mereka menawarkan kendaraan pribadi sebagai hadiah, yang tidak kalah pentingnya adalah sekarang semakin banyak produk motor wanita sehingga sekarang pun wanita sudah banyak yang menggunakan kendaraan pribadi untuk berpergian, ini semua sedikit atau tidaknya berpengaruh dalam menambah kemacetan lalu lintas di DKI Jakarta, tidak hanya di DKI Jakarta tapi, di kota-kota besar lainnya.
Penulis juga berpendapat bahwa yang dapat ambil dari kasus kemacetan lalu lintas di DKI Jakarta adalah bagaimana mengurangi angka kemacetan yang terjadi di ibukota ini. Kita sebagai warga DKI Jakarta harus patuh dan taat pada setiap kebijakan pemerintah, gunakanlah kendaraan umum yang kalian anggap aman dan nyaman tapi, bukan berarti masyarakat Jakarta tidak boleh memiliki kendaraan pribadi, kita boleh memiliki kendaraan pribadi tapi, jangan menumpuk artinya satu keluarga bisa mempunyai dua hingga empat sepeda motor atau dua hingga tiga mobil di rumah. Contohlah Singapura, negara yang luasnya tidak lebih besar dari Jabodetabek, tapi sistem lalu lintas mereka lancar, karena jumlah kendaraan pribadi mereka dibatasi hanya satu per kepala keluarga.
Keismpulan yang dapat diambil penulis adalah arus perkembangan di era globalisasi ini tidak dapat dibendung, orang terus mencari bagaimana mobilitas mereka lebih cepat dan mudah serta, aman dan nyaman, juga pengefesienan waktu mereka dalam melakukan suatu pekerjaan tanpa terhalang lagi oleh waktu tempuh yang lama. Semoga proyek MRT atau program-program pemerintah lainnya dapat terlaksana dengan baik, dan berjalan sesuai keinginan semua pihak yang menginginkan Jakarta bebas dari kemacetan lalu lintas. Amien.

Pojok Esai 2

Infrastruktur Pendidikan di Merah Putih

Oleh : Andika Wiranata

Miris dan sedih kita rasakan ketika melihat sejumlah siswa dan siswi di Lebak, Banten, harus bertaruh nyawa karena mereka harus melintasi jembatan yang sudah ambruk, dengan merayap di kawat sling sisa jembatan yang masih ada. Mereka harus melalui itu, karena jalan itu yang mungkin paling cepat untuk mencapai sekolah tempat mereka menimba ilmu, sedangkan arus deras dari sungai di bawah jembatan itu siap menerkam mereka apabila mereka terpeleset dan terjatuh ke sungai. Tidak hanya di Banten, di Papua bahkan siswa harus berjalan puluhan kilometer dan melintasi sungai yang ada buayanya untuk mencapai sekolah mereka. Menyeramkan mereka harus mengalami kejadian seperti ini, mungkin orang tua mereka pun seperti tak rela membiarkan anak-anak mereka  bersekolah.
Kejadian ini ternyata tidak hanya hangat dibicarakan di dalam negeri tapi, sejumlah media massa di luar negeri juga membicarakan hal ini. Mereka melihat tayangan video yang menayangkan anak-anak menyeberangi jembatan yang sudah runtuh untuk pergi ke sekolah dan seakan tidak percaya di Indonesia terdapat hal yang semacam ini. Bahkan, mereka menyebut perjuangan anak-anak yang melintasi jembatan itu mirip bagian dari film di Indiana Jones. Di film tersebut ada bagian dimana sejumlah orang yang melintasi jembatan yang berbahaya demi mendapatkan harta karun, mungkin dalam kasus ini harta karun itu adalah ilmu.
Tidak hanya itu, banyak sekolah yang tidak layak huni di Indonesia. Atap yang hampir rubuh, ruangan kelas yang terbatas, bangunan sekolah yang keropos  atau lokasi sekolah yang terancam longsor, sungguh mengerikan apabila kita melihat hal ini semua. Sayangnya, pemerintah seakan menutup mata dan berpura-pura tidak tahu akan semua kejadian yang terjadi di dunia pendidikan. Entah apa yang terjadi di dalam dunia pendidikan kita, dimana semangat jiwa-jiwa muda yang ingin belajar terhalang oleh infrastruktur yang kurang memadai atau bahkan sangat tidak memadai.
Bahkan, ada sekolah yang bertahun-tahun sudah mengajukan perbaikan sekolah dengan meminta dana ke dinas pendidikan setempat, tidak juga direspon oleh pihak yang dituju. Pemerintah seakan mengabaikan soal pendidikan khususnya infrastruktur yang mendukung pendidikan. Mungkin yang paling miris di sejumlah daerah, ada sekolah yang tidak layak huni hanya beberapa kilometer dari kantor kecamatan atau dinas pemerintahan lainnya. Pejabat-pejabat itu seakan tidak pernah melihat tempat dimana mereka memimpin atau malah sengaja membiarkan hal itu terjadi.
Terakhir, pemerintah sekarang sedang menggaung-gaungkan pendidikan karakter yang pelaksanaannya masih di awang-awang. Seharusnya mereka jangan terlalu jauh memikirkan hal-hal yang masih sebatas wacana belaka. Mereka harusnya sering melihat tayangan televisi atau membaca surat kabar, dimana banyak diberitakan sekolah yang tidak layak dan permasalahan pendidikan lainnya. Tidak dipungkiri juga pemerintah terlalu sentral mengurusi perbaikan perekonomian dibandingkan perbaikan pendidikan, mereka sibuk untuk berupaya meningkatkan pendapatan per kapita, menarik investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia dan menciptakan lapangan pekerjaan tapi, percuma menciptakan lapangan pekerjaan yang ternyata diisi oleh orang-orang asing juga sedangkan, warga pribumi hanya sebagai buruh dengan gaji yang seadanya, dan tentu saja penyebabnya adalah karena pendidikan mereka yang rendah.
Kemudian di saat gedung-gedung sekolah tidak layak pakai itu berusaha berdiri dan anak-anak “Indiana Jones” itu menyeberangi jembatan runtuh untuk ke sekolah, sejumlah anggota DPR sibuk dengan rencana merenovasi sejumlah ruangan kerja mereka yang menghabiskan dana ratusan juta mungkin sampai milyaran rupiah. Namun, itu yang jangka pendek, mereka sudah punya rencana jangka panjang untuk membuat gedung DPR baru lengkap dengan segala fasilitas mewah, dan sudah disetujui untuk dibangun.  Sungguh, apakah sudah tidak ada lagi kepekaan sosial di negeri ini, menghabiskan milyaran rupiah untuk suatu hal yang sebenarnya masih bisa mereka tunda sedangkan, anak-anak mereka yang jauh pedalaman Indonesia masih sangat butuh perhatian khususnya soal pendidikan.
Indonesia dengan dana anggaran pendidikan mencapai dua puluh persen dari APBN, seakan tidak terlihat dampaknya bagi pembangunan pendidikan di sejumlah daerah, program-program pendidikan yang dicanangkan pemerintah kurang terlihat dan kurang tersosialisasikan di daerah-daerah terpencil. Ketimpangan fasilitas penunjang di daerah dan di perkotaan sungguh telihat jelas. Harusnya pemerintah turun langsung dan cepat tanggap dalam menyelesaikan semua masalah di dunia pendidikan. Jangan hanya menunggu laporan palsu dari bawah yang terkesan “asal tuan senang”, sehingga melaporkan keadaan pendidikan di daerah-daerah baik-baik saja dan terlihat kondusif yang ternyata fiktif.
Dalam tulisan ini saya mencoba untuk mengkritisi kepekaan pejabat-pejabat negara dari bawah sampai yang paling tinggi, untuk sejenak berkaca tentang negerinya dan tidak mementingkan kepentingan pribadi. Bukan hanya sejenak melupakan kepentingan pribadi tapi, meninggalkan kepentingan pribadi demi membangun negeri ini, karena mereka adalah orang-orang yang dipilih. Mereka selalu berkata ada demoralisme atau penurunan moral khususnya di jiwa-jiwa pemuda kita, itu tidak lain karena kualitas pendidikan kita yang tidak kunjung membaik, harusnya mereka memikirkan dan melihat keadaan sekolah-sekolah di daerah dan sarana penunjangnya.
Akhirnya, dapat kita ambil sebuah kesimpulan bahwa dalam membangun suatu bangsa yang bermartabat diperlukan pendidikan yang berkualitas pula, yang paling mendasar adalah mungkin tempat belajar yang nyaman dan tidak membuat orang tua harus deg-degan ketika melepas anak-anak mereka pergi sekolah karena jalan menuju sekolah terdapat banyak bahaya, dan anak-anak mereka pun tenang karena ruangan tempat mereka belajar tidak menyimpan suatu bahaya yang mungkin bisa menimpa mereka setiap saat. Kita semua berharap dapat saling membantu dan mewujudkan hal ini demi kemajuan pendidikan negeri ini. Semoga.

Pojok Esai 1

Politik BBM
oleh Andika Wiranata

BBM, tiga huruf yang sangat berpengaruh dalam negeri ini, karena bila ditambahkan kata “naik” sebelum kata tersebut, tentu raut wajah semua orang akan berubah lebih condong emosi dibanding happy. Setelah itu orang-orang akan siap memaki-maki rezim yang ada, sampai-sampai sang penguasa rezim pun merasa terteror keselamatannya. Segitu berbahayakah jika kedua kata itu disandingkan.
Bicara mengenai BBM tidak terlepas soal rezim yang berkuasa saat ini, karena sebelum rezim ini untuk kedua kalinya naik menjadi penguasa lagi, terdapat iklan kampanye yang menyuarakan tentang keberhasilannya menurunkan harga BBM tiga kali berturut-turut, dan dianggap sebagai keberhasilan pemerintahan rezim yang sekarang berusaha melanjutkan ini. Namun saat ini, rezim ini seakan goyah karena mempunyai wacana untuk menaikkan harga BBM, yang sontak memicu reaksi yang keras dari masyarakat, khususnya golongan bawah yang harus semakin memutar otak bagaimana cara mereka melanjutkan kehidupan mereka, karena bila BBM naik, tentu segala hal untuk biaya hidup dimungkinkan akan naik.
Bicara mengenai BBM tentu tidak lepas bicara mengenai subsidi dan BLT. Subsidi yang dikeluarkan pemerintah dinilai keliru dalam beberapa hal diantaranya, yang pertama subsidi tidak produktif, kedua tidak tepat sasaran, yang terakhir tidak ramah lingkungan. Tidak produktif karena jumlah dana yang dikeluarkan oleh pemerintah begitu besar, nampaknya akan lebih bermanfaat bila direlokasikan ke masalah infrastruktur. Tentu dana-dana tersebut lebih berguna untuk pembangunan infrastruktur di daerah-daerah terpencil, agar daerah-daerah tersebut bisa lebih mengembangkan potensinya masing-masing.
Selanjutnya, tidak tepat sasaran karena hampir setengahnya dinikmati oleh kaum menengah ke atas, sedangkan hanya sedikit dari kaum menengah ke bawah yang dapat menikmatinya. Lalu yang terakhir tidak ramah lingkungan, dinilai tidak ramah lingkungan karena dengan diberikan subsidi kepada bensin tentu membuat harga bensin menjadi lebih murah, dan membuat industri-industri yang memproduksi  produk-produk dengan menggunakan energi terbarukan atau bukan bensin, menjadi tidak bisa bersaing, karena murahnya harga bensin. Tentu gaung-gaung pemerintah untuk beralih ke energi terbarukan hanya menjadi seperti angin lalu saja. Semakin banyak polutan akibat pembakaran bensin, contohnya kemacetan di Jakarta, tentu membakar bensin dengan percuma dan sia-sia.
BLT atau Bantuan Langsung Tunai merupakan kebijakan yang dilakukan pemerintah dengan terpaksa menaikkan harga BBM atau mengurangi subsidi, lalu pemerintah mengambil uang dari subsidi yang dikurangi dan memberikan kompensasi ke rakyat miskin selama dua atau tiga bulan. Kebijakan ini dinilai kurang efektif karena hanya bersifat sementara dan jangka pendek. Seharusnya diberikan secara jangka panjang dengan program-program yang dirancang dengan matang, seperti bantuan pendidikan, pinjaman modal usaha, atau dana bantuan kesehatan.
BLT ini sempat dilakukan ketika rezim penguasa jilid pertama akan berakhir, dan banyak orang beranggapan kebijakan ini dilakukan hanya untuk sekadar menarik simpati rakyat terhadap rezim masa itu, karena sudah dekat masa pilpres pada saat itu. Saat ini BBM mungkin tidak dapat lagi dielakkan untuk tidak naik, pasti naik cuma kapan akan diputuskan hanya tinggal menunggu waktu.
Lalu apa yang ditakutkan masyarakat saat ini selain harga sembako dan barang-barang kebutuhan lain akan melonjak? Tentu gelombang aksi penolakkan besar-besaran oleh masyarakat, mahasiswa, ormas-ormas, juga LSM terkait kenaikkan harga BBM tersebut. Ditakutkan tragedi kelam sewaktu rezim orde baru akan terulang kembali. Lalu apa yang dilakukan pemerintah untuk mencegah hal itu? Pemerintah memanggil sejumlah rektor universitas di Indonesia, untuk memaparkan kenapa BBM harus naik dan mungkin agar lebih mudah menyampaikannya ke mahasiswa di universitas di mana rektor itu menjabat.
Penguasa rezim kita juga mengajak sejumlah mahasiswa untuk ikut dalam lawatan sang penguasa ke negeri tirai bambu. Sayangnya, para aktivis mahasiswa tersebut menolak karena menganggap ada udang dibalik batu. Mereka menganggap diajaknya mereka ke tirai bambu, guna meluluhkan hati sejumlah pimpinan aktivis mahasiswa untuk menyetujui naiknya harga BBM.
 Pertimbangan pemerintah untuk menaikkan harga BBM adalah agar anggaran negara tetap bisa mengikuti perkembangan situasi ekonomi dan perekonomian Indonesia tetap sehat, juga karena harga minyak dunia. Mungkin pertanyaan kita sekarang, kenapa harus BBM? Apa tidak ada jalan lain? Mungkin itu yang sekarang ada di benak kita, dan ada perasaan jengkel kenapa rakyat kecil harus semakin menderita dan untuk apa berbicara soal anggaran? Apa anggaran negara kita sedang pailit akibat ulah sejumlah pejabat yang menghambur-hamburkan uang dengan permintaan-permintaan yang irasional juga skandal kasus-kasus korupsi? Apakah harus mengorbankan rakyat kecil? Pertanyaan yang selalu itu-itu saja.
Tulisan ini diharapkan mampu mengarahkan sedikit jawaban kenapa BBM harus naik. Rezim saat ini pun masih belum ketok palu jadi atau tidak jadi harga BBM ini naik. Mereka masih seakan tarik ulur kapan waktu yang pas untuk ketok palu. Seharusnya pemerintah harus segera ambil sikap yang tegas dalam menyikapi kenaikkan harga BBM ini. 
 Semoga kebijakan apa pun yang diambil oleh pemerintah benar-benar ditujukan untuk negara dan juga tentunya untuk rakyat, bukan untuk kepentingan segelintir orang yang ingin mementingkan egoismenya semata. Naik atau tidak naiknya harga BBM, kita anggap sebagai keputusan yang paling terbaik untuk bangsa dan negara ini. Amien.

Pojok Cerpen : Andika Wiranata

Karena Dia adalah Ayahku
Oleh : Andika Wiranata


“ Banguuunnnn..... Lang..... Elang Banguuunnn ” suara wanita setengah baya dengan halus menyapaku di tengah nyenyaknya tidurku. “ Iya... mama... ” jawabku manja sambil mencari HP dan membuka pesan singkat, “ Bangun sayang.. solat yuuuukkk.... hehe ” isi pesan singkat dari kontak yang bernamakan Latifah yang ternyata mambangunkanku lima belas menit lebih awal dari ibuku. Segera ku menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan melintasi sebuah ruangan yang ada di dalam rumah kami yang biasa disebut “mushola rumah”, tempat dimana kami sering beribadah berjamaah, ” Cepat Elang... ” pinta ayahku. “ Iya pah.. ” sahutku. Ayah dan ibuku sudah siap dengan baju takwa mereka dengan formasi ayah siap memimpin kami di ibadah pagi ini.  

Kami biasa sarapan pagi bersama, walau terkadang hanya segelas kopi susu yang ku seruput karena perutku agak bermasalah apabila makan berat di pagi hari, dan terkadang harus membuatku beberapa kali memasuki kamar mandi. “ Rotinya gak disentuh, Lang? ” tanya ibuku lembut. “ Gak ah mah, perut Elang suka kontraksi berkali-kali kalau makan yang berat pagi-pagi, buat bekal ke kampus  aja mah, papa aja yang disuruh makan hehehe.. ” jawabku lembut. “ Kamu tuh ada-ada aja, Lang ” sahut ibuku. “ Kuliahmu gimana, Lang? ” tanya ayahku sambil mengoleskan selai ke roti tawarnya. “Alhamdulillah baik pah ” jawabku sambil menambahkan sesendok gula putih ke ramuan kopi susu hangat. “ Kamu kenapa tidak ambil ilmu politik seperti papa? Malah mau jadi guru, ikutin pacarmu itu ya? ” tanya ayahku dengan nada bicara agak sedikit tinggi. “ Gak lah pah, dia aja jurusannya apa, ya Elang mikirnya harus beda lah, biar ada pembanding hehe.. ” jawabku seraya menetralkan suasana. 

Setelah selesai meneguk secangkir kopi susu, aku langsung berpamitan kepada kedua orang tuaku. “ Pah, Mah.. Elang berangkat dulu ya.. ” sambil mencium kedua tangan orang tuaku. “ Gak bareng papa, Lang? ” tanya ayahku. “ Haha.. lucu deh.. papa berangkat jam berapa, Elang masuk kuliah jam berapa.. ”jawabku. “ Yaudah hati-hati ya lang ” jawab ayahku, ketika aku mencium tangan ibuku yang wangi akan kelembutan seorang ibu. “ Assalamualaikum.. ” salamku kepada orang tuaku. “ Waalaikumsalam.. ” jawab mereka. Segera ku menuju bagasi untuk memanaskan motor bebek  keluaran tahun 2004 yang kumiliki sejak ku lulus dari sekolah menengah pertama, dan ku sangat menyayanginya, bagiku dia adalah pacar pertama dan paling setia menemaniku kemana-mana, walau terkadang aku harus mengalah dengan kondisinya saat ini yang sering sakit-sakitan. Ayah pun sudah berkali-kali menawarkanku untuk memilih kendaraan macam apa yang ku inginkan, entah itu “moge” atau mobil impor sekalipun yang sekarang penjualannya sedang meningkat pesat dengan “casing” dan “body” besar tidak cocok dengan kontur jalanan di Jakarta yang terlalu sempit.

Ketika sedang memanaskan pepi, nama motor yang ku punyai ini, terpikir sejenak, kenapa aku tidak mengikuti ayahku untuk mengambil ilmu yang sama seperti waktu kuliah ayahku dulu, aku pun juga sebenaranya tertarik dengan dunia politik, namun panggilan jiwaku ingin menjadi guru. Ya, memang dan tak bisa kupungkiri, ayah adalah sosok yang aku banggakan dan panutan, dia imam untuk seorang istri dan satu anak laki-lakinya, bisa dibilang pria yang sangat ideal dengan paras rupawan, sikap yang wibawa dan berkharisma, dan sangat wajar bila wanita sebaik dan secantik ibuku sangat terpukau dan terpikat oleh mantan ketua BEM Universitas di salah satu perguruan tinggi di daerah Depok itu. Cerita ini  ku dapatkan ketika mereka bercerita tentang masa lalu mereka sambil membuka album foto mereka beberapa hari lalu. Ayah juga selalu memberi wejangan-wejangan yang apik kepadaku mengenai kehidupan, katanya biar aku tidak tersesat. Beliau adalah seorang pria keraton dangan gelar raden di depan namanya, dan sekarang aku pun menyandang pula gelar itu, dan aku cukup senang dengan warisan ini, namun aku selalu merendah ketika ada orang yang bertanya tentang gelar warisan ini, dan enggan dipanggil “Raden” karena aku beranggapan itu gelar dan namaku bukan “Raden”. Setelah cukup panas, aku berangkat ke kampus dan berharap pepi meluncur mulus sampai kampus.

Tekadku, semester empat ini adalah mendapatkan nilai A lebih banyak dibanding semester lalu. Tekadku semakin bulat ketika sesosok wanita yang dua tahun lebih menghiasi warna-warni kehidupanku. Pepi tidak selalu langsung ke kampus ketika akan berangkat ke kampus, namun mampir sejenak untuk menjemput seorang putri. “ Assalamualaikum.... Latifah... ” salamku ke rumah dengan pagar setinggi dadaku. “ Waalaikumsalam.. eh, nak Elang, tunggu sebentar ya” jawab ibu Latifah. “ Iya, ibu... “ jawabku. Seketika muncul sesosok wanita anggun, berjilbab, semampai keluar dari pintu rumah dan berpamitan dengan ibunya, dan dalam hati aku berkata “ Sungguh indah ciptaan yang kau berikan pada hambamu ini, ya Allah ”. Lalu mendatangiku, “ Nunggu lama ya? “ tanyanya halus. “ Gak ko sayang.. ayo langsung bernagkat “ jawabku langsung sambil menyodorkan jok bagian belakang ke arahnya. “ Bu kami berngkat dulu, ya... “ kataku. “ Iya, hati-hati..” jawab ibu Latifah dari depan teras. Wangi parfum Latifah sungguh khas, benar-benar “wanita”, candaku dalam hati. Dia adalah wanita yang bisa dibilang “softcopy” dari ibuku.

Ketika di perjalanan, ipeh sapaan akrabku bertanya tentang sesuatu yang jarang ia tanyakan “ Eyang...” panggilnya manja dengan mengganti salah satu huruf di ejaan namaku. “ Iya, peh.. kenapa? ” jawabku. “ Ayah kamu hari ini sidang? Kalau sidang gitu, dapet uang gak si yang? “ tanyanya polos. “ Tumben kamu tanya kaya gitu, kenapa? Mikirin apa hayo?” tanyaku usil. “ Hehe.. gak ko yang.. Cuma tanya kan sekarang lagi riuh tuh di tivi tentang anggota dewan dan permintaan yang kadang nyeleneh  “ tanyanya.  “ Wah, aku gak pernah ikut campur, itu urusan papa sayang.. Oya nanti aku cuma sampe jam sepuluh kelasnya, nanti kalau ada waktu kita makan bekal bareng ya.. ” jawabku yang berusaha mengalihkan pembicaraan yang agak aku kurang sukai. “ Ok, Burung Elang.. ” jawabnya. “ Huft ” pelan dari mulutku.

Setibanya di kampus, kami berpisah karena kami tidak satu jurusan, Latifah mengambil jurusan tata boga karena ia sangat suka memasak dan berkeinginan menjadi koki yang profesional, dan sudah terbukti masakannya sangat enak bila aku mampir ke rumahnya. Sambil berjalan menuju jurusan dalam hati masih agak sidikit kaget karena dia menanyakan hal yang menurut aku perkataannya agak menyudutkan atau akunya saja yang berlebihan menanggapi pertanyaanya, maklum mungkin sensitifitas mahasiswa jurusan bahasa Indonesia terhadap makna kalimat atu kata-kata  lebih peka dibanding jurusan lain. Namun, dalam hati mencoba berpikir positif, karena memang benar akhir-akhir ini anggota dewan yang terhormat tengah disorot karena tingkahnya yang nyeleneh dan beberapa skandal kasus mereka. Hanya Latifah yang mangetahui status ayahku sebagai anggota dewan.
Ayahku sebenarnya adalah seorang eksportir barang-barang kerajinan tangan ke negara-negara Eropa dan benua lainnya, bependidikan S1 politik, yang di tahun 2008 diajak oleh seorang teman kampusnya untuk bergabung menjadi kader di salah satu partai besar dan terkemuka di Indonesia, dan turun gunung untuk mencoba memakai ilmunya. Pada tahun 2009, ayahku terpilih sebagai legislatif baru dan duduk di Komisi X DPR. Bangga sekaligus takut, bangga karena ayah kita adalah pejabat pemerintahan yang diberi amanah oleh rakyat, takut karena seperti kita tahu pengadilan rakyat, juga kritik pedas dan tajam tentu harus siap diterimanya ketika ada hal yang tidak sesuai dengan kehendak rakyat. Tapi, aku yakin dengan pengalaman dan mental baja ayahku dapat menjalankan amanah itu dengan baik, dan ayahku bukan bandit-bandit senayan.

Kuliah pun usai tepat pukul sepuluh, aku keluar ruangan lalu duduk di pendopo dekat jurusan dan seketika getaran HP memecah pikiran tegangku, “ Lang ke kantin ada anak-anak ” isi pesan singkat dari Iwan. “ Iya wan, cepet banget udah pada di kantin aja ” balasku. Sesampainya di kantin, teman-temanku seakan manyambutku, “ Lang, tadi anak dari FIS, ajakin aksi pertengahan Oktober nanti “ ungkap Iwan sambil duduk mengangkang dan rambut yang gimbal setenagh bahu. “Aksi tentang apa dulu ni? “ jawabku. “  Ya, kritik tentang kinerja DPR kan lagi hangat-hangatnya tuh ” jawab Adi, dengan gaya rambut mohak berjambul. Seketika tubuhku agak kaku dan enggan berkata-kata, karena aku tau yang aku akan kritik adalah ayahku sendiri, memang ada kesalahan pada diriku, dimana aku sama sekali tidak mau bertanya-tanya kepada ayahku tentang kinerjanya di DPR dan kegiatannya, karena aku takut menyinggung perasaannya. “ Lang? Lang kenapa diem? “ tanya Rara seorang wanita tomboi berparas cantik dengan jeans dan rambut pendeknya. “ Ah, gak Ra... lagi mikir aja.. hehe.. Tumben lu manis banget hari ini “ jawabku senyum-senyum. “ Eeh malah ngobrol, ikut gak ni lang? “ tanya Rudi yang dari semester 1 sudah aktif mengikuti aksi-aksi seperti ini. “ Kenapa lu lang? Bingung karna lo bakal kritik bokap lu sendiri? “ kata-kata mengagetkan muncul dari kejauhan dan semakin mendekat. Ternyata dia adalah Dion anak teknik mesin dengan kepala plontosnya, dia adalah teman satu SMA ku, dulu kami dekat, tapi semenjak dia ditolak Latifah dan Latifah lebih memilih aku, dia seakan menjauhiku dan terkesan sinis kepadaku. “ Jawab lang, iya kan? ” dia menyerbu ku  dengan pertanyaan-pertanyaan yang seakan ingin menghakimi ku di depan teman-temanku. “ Bokap lu anggota dewan, Lang? “ tanya ketiga temanku serentak. Aku memang menymbunyikan identitas ayahku, aku selalu bilang ayaku hanya seorang eksportir, dan mungkin memang tidak ada yang menyangka karena gaya hidupku yang jauh dari seorang anak pejabat yang selama ini penuh dengan dengan kesan glamour. “ Oya, gue ke Latifah dulu ya, tadi dia bilang ada yang mau diomongin dan udah janjian “ aku dengan jawaban yang berusaha ingin menghindar. “ Yaudah, ketua BEM jurusan kaya lu harus ikut pokoknya, apalagi tahun perdana”  tandas Rudi sambil menyemburkan asap filter ke udara. Seperti ada kesepakatan tidak tertulis di kampus kami jika seorang ketua BEM jurusan harus ikut mendukung aksi. “ Ok Rud, gampang lah, gue cabut dulu ya ” jawabku cepat sambil berjalan membelakangi mereka. 

Sesampainya di rumah, alangkah terkejutnya, aku melihat ibuku sedang menangis tersedu-sedu, “ Kenapa mah, mama kok nangis? ” tanyaku lembut. Ibuku seakan tidak manghiraukan pertanyaan ku dan terus sibuk dengan air matanya. “ Kenapa ma? “, lalu seketika ibu menyodorkan surat pemanggilan dari kejaksaan yang ditujukan kepada ayahku terkait kasus korupsi wisma untuk event olahraga di Palembang. Sungguh hati ini seperti terhunus pedang, dan disitu tertulis ayahku ditetapkan sebagai tersangka. Sungguh Oktober, yang pilu. “ Sekarang dimana Papa, mah? “ tanyaku. “ Ayahmu ke rumah kakekmu di Jogja untuk menenangkan dirinya sembari menunggu hari persidangan ”jawab ibuku tersedu-sedu. “ Sabar ya mah, Elang yakin papa bukan orang yang seperti ini, papa gak mungkin seperti ini ” jawabku. Malam yang sungguh tidak mengenakkan, keadaan rumah yang kalut. Sungguh tidak mengenakkan. Dan di beberapa media elektronik, nama ayahku mulai disebut-sebut. “ Sabar ya sayang... “ isi pesan singkat yang dikirim oleh Latifah pada malam itu. Dia terus menyemangatiku. “Iya terima kasih ya sayang “ balas ku setelah beberapa sms sebelumnya. 

Keesokan harinya, ada rapat kecil ututk membahas rencana aksi yang akan dilaksanakan pada tanggal 17 Oktober, tanggal dimana ayahku Raden Sumantri Joko Sasongko, akan disidangkan. Sungguh ironi, entah apalah aku ini anak durhaka atau apa disaat orang tua duduk di kursi pesakitan, aku malah akan ikut mendemonya habis-habisan. Hasil rapat itu cukup mencengangkan karena akan ada gabungan dua puluh universitas dari seluruh Indonesia akan turun pada hari itu, dan di tempatkan pada lokasi-lokasi tertentu, salah satunya tempat diman ayahku akan disidangkan. Namun, pada hari itu, belum banyak orang yang tau jika ayahku namanya terseret pada suatu skandal. Dua hari sebelum aksi dimulai, ada rapat besar dan dihadiri perwakilan mahasiswa dari seluruh Indonesia, dan agenda menentukan kordinator setiap titik wilayah, alangkah terkejutnya, Dion menunjukku sebagai kordinator yang akan beraksi di depan kejaksaan bertepatan dengan persidangan, dia sengaja mengundurkan diri sebagai kordinator di titik itu. Sungguh orang yang kotor, pikirku. 

Akhirnya, hari persidangan dan hari H aksi tiba, aku yang berangkat pagi ke kampus belum bertemu dengan ayahku lagi semenjak dia pergi ke Jogja beberapa hari yang lalu. Dengan almamater dan perasaan bersalah aku pamit kepada ibuku,” Kamu gak mau lihat persidangan, lang? “ tanya ibuku sedih. “ Maaf mah, Elang ada urusan penting di kampus dan sudah janji, mungkin kalo ada sidang kedua, Elang pasti ikut, tapi semoga status tersangka papa cepat dicabut ya mah, Elang berangkat dulu mah, Assalamualaikum... ” , “ Ya sudah tidak apa-apa, nanti mama sama Om Wijono saja... Waalaikumsalam ” jawab ibuku. Jam sepuluh kami sudah siap di depan kejaksaan  dan orasi akhirnya dimulai ketika ayahku di sidang dan ibuku hanya ditemani oleh pamanku seorang, dan sekarang orang yang aku banggakan sedang dikritik habis-habisan oleh anaknya sendiri. Dalam hati ini kecewa sekaligus berdoa semoga sangkaan ini salah, dan berusaha bersikap profesional di depan teman-teman yang ikut aksi. 

Pukul empat sore aksi pun selesai, dan aku memutuskan untuk lansung kembali ke rumah, untuk langsung meminta maaf kepada kedua orang tuaku. Sesampainya di rumah, terlihat ada sedikit rona cerah di wajah ibuku yang beberapa hari ini tampak kusam karena kesedihan ini. Lalu dari kamar keluar sosok pria seraya memanggilku “ Elang..”, “ Iya pah... “ jawabku. Lalu ayahku duduk disebelah ibuku, dan mengucapkan maaf apabila nama baik keluraga agak sedikit tercoreng, tapi ayah menjelaskan kalau status hukumnya sebagai tersangka turun sebagai saksi. Dalam persidangan tidak ada keterangan yang memberatkan ayah atau bukti yang menguatkan ayah, kalau ayah terseret dalam kasus wisma olahraga. Mungkin ini yang membuat rona cerah kembali ke ibuku. “ Maafin Elang juga ya pah, Elang tadi tidak bisa hadir di persidangan, Elang malah mendemo papa, ketika papa duduk di kursi itu “ ungkapku takut sambil memegana tangan ayahku. “ Iya, nak sudah lah, papa tau kamu juga pasti kecewa, sudah yah ” jawab ayahku. “ Maafin Elang juga ya mah, tadi bohong sama mama “ , “ Ya sudah Lang, tidak apa-apa, lain kali jadi pembelajaran ya bukan cuma buat papa tapi, juga buat kamu “  sambil mengusap-usap kepalaku. “ Elang dari awal yakin kalo papa gak mungkin ikut-ikutan kaya gitu, papa selalu ajarin Elang makna-makna kehidupan yang baik gak mungkin papa malah mencorengnya, iya kan pa? “ tanyaku. “ Iya, Lang “ jawab ayahku.

            “ Makasih ya sayang ada terus buat aku, disaat hati resah.. hehehe, papaku sekarang cuma sebagi saksi sayang...” isi pesan singkat yang ku kirim ke Latifah. “ Iya, sayang.. aku selalu di sisimu.. hehehe” jawabnya. Lega rasanya, sedikit beban berkurang, dan mulai sekarang aku tidak menyembunyikan identitas ayahku lagi sebagai anggota DPR, karena ku tau ayahku adalah anggota dewan yang terhormat dan memegang amanah rakyat, dan tidak semua anggota dewan itu rusak, contiohnya ayahku. Karena Dia adalah Ayahku.

Rahasia Bugar Vegetarian Saat Puasa

Oleh Erly Susana

Bagaimana para vegetarian menyambut bulan puasa?

Indri, seorang karyawan swasta yang telah empat tahun menjadi vegetarian, mengaku tidak risau dengan kesegaran tubuhnya saat berpuasa dan tetap bekerja. Berikut ini kiat yang diberikan Indri berdasarkan pengalamannya.

Menyantap sayur saat sahur
Agar tidak letih pada siang hari, makanlah secukupnya saat sahur. Tidak berlebihan tapi juga tidak kurang. Perbanyak makanan berserat seperti buah dan sayuran, dan yang pasti makanlah makanan yang bergizi (bukan mi instan).

 

Begitu pun saat berbuka puasa. Mulailah dengan teh manis hangat (jangan yg bersoda, karena berdampak buruk bagi perut) dan makanan pembuka berupa buah atau makanan ringan. Setelah salat Magrib atau Isya, barulah makan berat. Lagi-lagi, jangan berlebihan.

Air mineral
Indri menyarankan untuk minum air putih yang banyak, sebagai salah satu cara untuk menghidari dari dehidrasi akibat panas matahari dan pendingin ruangan. Entah di kendaraan maupun di ruang kantor. Inilah yang dia alami. Indri merasa tubuhnya tetap segar lantaran banyak minum air mineral.

Olahraga
Wanita berusia 39 tahun ini juga berolahraga ringan saat puasa. “Tapi menjelang buka puasa,” katanya. Setelah menggerakkan seluruh badannya itu, dia merasakan badan lebih segar dalam menghadapi puasa sebulan penuh.

Olahraga ringan yang dimaksud Indri, di antaranya jalan atau lari-lari kecil. Atau, melakukan senam kecil untuk menggerakkan otot-ototnya.

Konsumsi vitamin
Indri termasuk yang tidak lupa dalam mengonsumsi vitamin: A, B, dan C. Tentu tidak harus dalam bentuk pil, tablet, atau minuman. “Vitamin tersebut terdapat pada buah berwarna kuning atau merah, sayur berwarna hijau tua, dan kacang-kacangan,” katanya.

Chaidra Wilda, ahli nutrisi, tidak keberatan atas konsumsi makanan Indri.

Hanya, lebih konkret Era — Chaidra biasa disapa — menuturkan, agar tidak letih pada siang hari, prinsipnya adalah memaksimalkan pasokan tenaga saat sahur. Untuk kebutuhan itu, lanjut mantan Kepala Gizi di Rumah Sakit Dharmais ini, konsumi makan bisa ditambah dengan segelas susu + sesendok madu atau boleh juga selembar keju + sesendok madu.

Sebagai penganut vegeratian seperti Indri, alternatif paling efektif untuk mengganti protein hewani, kata pegawai Departemen Kesehatan ini, adalah susu, keju atau telur.”

Tapi kalau vegetarian murni, lanjutnya, bisa diganti dengan susu kedelai.

Dikutip dari : www.yahoo.com 

Terapi Hipnosis untuk Menguruskan Badan

Bisa dibilang terapi hipnosis mendapat ketenarannya beberapa tahun belakangan ini.

Terapi hipnosis adalah sebuah teknik pemberian sugesti yang diberikan oleh seorang terapis kepada pasien sesuai dengan gejala yang dikeluhkan pasien.

Dengan berbagai jenis gejala yang bisa disembuhkan dengan hipnosis, kegemukan pun juga menjadi salah satu 'penyakit' yang bisa disembuhkan.

Menurut dr. Mannya Alvarez, ginekolog dari Hackensack University Medical Center, terapi dilakukan dengan menggali permasalahan dari pasien yang menyebabkan ia mengalami kegemukan.

Setelah itu, pasien akan dikondisikan dalam keadaan sangat santai dan nyaman, sehingga sugesti terapis bisa masuk untuk menghentikan kebiasaan-kebiasaan yang menyebabkan kegemukan.

Namun yang harus diingat adalah terapi ini membutuhkan kerja sama yang baik antara pasien dengan terapis.

Apabila pasien bersikap keras kepala dan dan tidak mau mengikuti sugesti, maka terapi tidak akan berhasil.

Tip lainnya: pilihlah terapis yang berpengalaman dalam menjalankan terapi hipnosis ini.

Dikutip dari : www.yahoo.com 

Jumat, 06 Juli 2012

Sinopsis : Novel Dibawah Lindungan Ka’bah dan Unsur Intrinsik


Novel yang berjudul “Di bawah Lindungan Ka’bah” karya Hamka ini menceritakan tentang kisah cinta yang tak sampai antara Hamid dan Zainab, yang mereka bawa sampai liang lahat.
Awal cerita dimulai dari keberangkatan “Aku” ke Mekah guna memenuhi rukun Islam yang ke-5 yaitu menunaikan ibadah haji. Alangkah besar hati “Aku” ketika melihat Ka’bah dan Menara Masjidil Haram yang tujuh itu, yang mana sudah menjadi kenang-kenanganku. “Aku” menginap di rumah seorang syekh yang pekerjaan dan pencaariannya semata-mata memberi tumpangan bagi orang haji. Di sinilah “Aku” bertemu dan mendapat seorang sahabat yangmulia dan patut dicontoh yang bernama Hamid. Hidupnya amat sederhana,tiada lalai dari beribadat,tiada suka membuang-buang waktu kepada yang tiada berfaedah, lagi amat suka memperhatikan kehidupan orang-orang yang suci, ahli tasawuf yang tinggi. Bila “Aku” terlanjur membicarakan dunia dan hal ihwalnya, dengan amat halus dan tiada terasa pembicaraan itu telah dibelokkannya kepada kehalusan budi pekerti dan ketinggian kesopanan agama.
Baru dua bulan saja, pergaulan kami yang baik itu tiba-tiba telah terusik dengan kedatangan seorang teman baru dari Padang, yang rupanya mereka adalah teman lama. Ia bernama Saleh, menurut kabar ia hannya tinggal dua atau tiga hari di Mekah sebelum naik haji, ia akan pergi ke Madinah dulu dua tiga hari pula sebelum jemaah haji ke Arafah. Setelah itu ia akan meneruskan perjalanannya ke Mesir guna meneruskan studinya. Namun kedatangan sahabat baru itu, mengubah keadaan dan sifat-sifat Hamid.
Belakangan Hamid lebih banyak duduk termenung dan berdiam seorang diri, seakan-akan “Aku” dianggap tidak ada dan idak diperdulikannya lagi. Karena merasa tidak nyaman, maka “Aku” memberanikan diri mendekati dan bertanya kepadanya, kabar apakah gerangan yang dibawa sahabat baru itu sehingga membuatnya murung. Ia termenung kira-kira dua tiga menit,setelah itu ia memandangku dan berkata bahwa itu sebuah rahasia. Namun setelah dibujuk agak lama, barulah ia mau berbagi kedukaannya kepadaku. Dan ternyata rahasia yang ia katakan ialah tentang masa lalu dan kisah cintanya dimasa itu. Saleh mengabarkan kalau dia sudah menikah dengan Rosna yang kebetulan teman sekolahnya dan sahabat Zainab juga.
Suatu ketika Rosna bertandang ke rumah Zainab, yang mana Zainab itu adalah orang yang Hamid kasihi selama ini, namun ia tiada berani untuk memberitahukan perasaannya itu kepada Zainab,mengingat jasa-jasa orang tua Zainab kepada Hamid dan ibunya selama ini. Apalagi saat itu ibunya Zainab pernah meminta Hamid untuk membujuk Zainab supaya mau dinikahkan dengan kemenakan ayahnya. Padahal waktu itu Hamid berniat unuk memberi tahukan tentang perasaannya yang selama itu dia simpan kepada Zainab,namun niatnya itu diurungkannya.
Betapa terkejutnya Hamid ketika ia dimintai tolong untuk membujuk Zainab supaya mau dinikahkan dengan orang yang sama sekali belum ia kenal. Hamid gagal membujuk Zainab, karena Zainab menolak untuk dinikahkan. Hamid pulang dengan perasaan yang kacau balau, sejak saat itu Hanid memutuskan untuk merantau, sebelum pergi ia menulis surat untuk Zainab. Setelah itu mereka tiada berhubungan lagi, dan sampai sekarang pun ia masih menyimpan perasaanya itu. Dan kedatangan Saleh kemarin memberitahukan bahwa ternyata Zainab pun menyimpan perasaan yang sama, perasaan yang selama ini disimpan oleh Hamid. Saleh memberitahukan bahwa kesehatan Zainab memburuk dan ia ingin sekali tahu bagaimana kabar Hamid.
Setelah Zainab mendengar keberadaan Hamid di Mekah, Ia pun mengirim surat kepada Hamid sebagai balasan surat Hamid yang dulu. Seminggu setelah itu, Zainab pun menghembuskan nafasnya. Hamid tidak mengetahui kematian Zainab karena pada saat itu iapun sedang sakit, sehingga temannya tidak tega untuk memberitahukan kabar tersebut. Ketika Hamid sedang melaksanakan tawaf dan mencium hajar aswad ia berdoa dan menghembuskan nafas terakhirnya.


KUTIPAN
  • Salinan surat Zainab
Abangku hamid!
Baru sekarang adinda beroleh berita di mana Abang sekrang. Telah hampir dua tahun hilang saja dari mata,laksana seekor burung yang terlepas dsri sangkarnya sepeniggal yang empunya pergi. Kadang-kadang adinda sesali diri sendir, agaknya adinda telah bersalh besar, sehingga Kakanda pergi dengan tak memberi tahu lebjh dahulu.
Sayang sekali, pertanyaan Abang belumdapat adinda jawab dan Abang telah hilang sebelum mulutku sanggup nenyusunperkataan pnjawabnya. Kemudian itu Abang perintahkan adinda menurut perintah orang tua, tetapi adinda syak wasangsa melihat sikap Abang yang gugup ketika menjatuhkan perintah itu.
Wahai Abang …pertalian kita diikatkan oleh beberapa macam tanda tanya dan teka-teki, sebelum terjawab semuanya, kakanda pun pergi!
Adinda senantias tiada putus pengharaan, adinda tunggu kabar berita. Di balik tiap-tiap kalimat dari suratmu, Abang! … surat yang terkirim dari Medan, ketika Abang akan berlayar jauh, telah adinda periksa dan dinda selidiki; banyak sangat surat itu berisi bayangan, di balik yang tersurat ada yang tersirat. Adinda hendak membalas, tetapi ke tanah manakah surat itu hendak dinda kirimkan, Abang hilangtak tentu rimbanya!
Hanya pada bulan purnama di malam hari dinda bisikkan dan pesankan kerinduan adinda hendak bertemu. Tetapi bulan itu tak tetap datang; pada malam yang berikutnya dan seterusnya ia kian surut …
Hanya kepada angin petang yang berhembus di ranting-ranting kayu didekat rumahku, hanya kepadanya aku bisikkan menyuruh supaya ditolongnya memeliharakan Abangku yang berjalan jauh, entah di darat enah di laut, entah sengsara kehausan …
Hanya kepada surat Abang itu, surat yang hanya sekali itu dinda terima selam hidup, adinda tumpahkan air mata,karena hanya menumahkan air mata itulah kepandaian yang paling penghabisan bagi orang perempuan. Tetapi surat itu bisu, meskipun ia telah lapuk dalam lipatan dantelah layu karena kerap dibaca, rahasia itu idak juga dapt dibukanya.
Sekarang Abang, badan adinda sakit-sakit, ajal entah berlaku pagi hari, entah besok sore, gerak Allah siapa tahu. Besarlah pengharapan bertemu …
Dan jika Abang terlambat pulang, agaknya bekas tanah penggalian,bekas air penalakin dan jejak mejan yang dua, hanyayang akan Abang dapati.
Adikmu yang tulus,
Zainab
  • Do’a Hamid ketika tawaf:
“Ya Rabbi, Ya Tuhanku, Yang Maha Pengasihdan Penyayang! Bahwasanya, di bawah lindungan Ka’bah, Rumah Engkau yang suci dan terpilih ini, sayamenadahkan tangan memohon karunia.
Kepada siapakah saya akan pergi memohon ampun, kalau bukan kepada Engkau, ya Tuhan!
Tidak ada seutas tali pun tmpat saya bergantung lain dripada tali Engkau; tidak ada satu pintu yang akan saa ketuk, lain daripada pintu Engkau.
Berilah kelapangan jalan buat saya, hendak pulang khadirat Engkau, saya hendak menuruti orang-orang yang bertali hidupnya denganhidaup saya.
“Ya Rabbi, Engkaulah Yang Mahakuasa, kepada Engkaulah kami sekalianakan kembali …”
Setelah itu suaranya tiada kedengaran lagi; di mukanya terbayang, suatu chaya yang jernih dan damai, cahaya keridaan illahi.
Di bawah bibirnya terbayang suatu senyumandan … sampailah waktunya. Lepas ia dari tanggapan dunia yang mahaberat ini, dengan keizinan Tuhannya. Di bawah lindungan Ka’bah!


ANALISIS INTRINSIK
  1. Tema
Novel Di Bawah Lindungan Ka’bah karya Hamka ini betemakan percintaan, seperti kebanyakan novel populer lainnya.
  1. Tokoh
· Aku
· Hamid
· Saleh
· Pak Paiman
· Engku Haji Ja’far
· Mak Asiah
· Zainab
· Rosna
  1. Latar/setting
· Mekkah (1927)
· Padang (masa anak-anak sampai remaja)
· Padang Panjang
· Madinah
  1. Amanat
Pesan yang ingin disampaikan penulis dalam novel ini yaitu segala sesuatu membutuhkan pengorbanan. Kita sebagai manusia boleh berencana, berharap dan berusaha semaksimal mungkin, namun Allah jugalah yang menentukan semua itu.
  1. Alur
Alur yang digunakan dalam novel ini yaitu alur maju dan mundur.
  1. Sudut pandang
Dalam menulis novel ini, penulis menggunakan sudut pandang orang pertama dan orang ketiga.
  1. Gaya penulisan
Dalam menulis novel Di Bawah Lindungan Ka’bah, Hamka menggunakan bahasa melayu.