Halaman

Andika Wiranata

Selasa, 17 Juli 2012

Pojok Esai 9

Keren Itu Gak Tawuran
 Oleh : Andika Wiranata
Kata “tawuran” sangat identik sekali dengan masyarakat kita. Bukan hanya tawuran antar pelajar, tapi  antar remaja, antar TNI vs Polri, pedagang kaki lima dengan Satpol PP. Apakah bangsa kita, bangsa yang menanamkan kekerasan dalam kehidupannya? Mengapa sekarang semua orang seakan membenarkan penyelesaian masalah harus dengan kekerasan? Sungguh ini suatau ironi, yang harus kita hadapi sebagai bangsa yang bermartabat. Mereka semakin anarki, dengan embel-embel nama geng mereka. Lalu semakin bangga, apabila orang-orang takut dengan geng mereka, tanpa mereka sadar perbuatan itu mengganggu ketenangan masyarakat dan sungguh perilaku moral seorang manusia yang primitif. Inilah, Indonesia  kini memasuki era “tawuran”.
Tawuran adalah istilah masyarakat Indonesia, untuk kenakalan remaja yang pelakunya melakukan tindak kekerasan dengan berkelahi beramai-ramai atau massal dan biasanya memiliki satu tujuan kelompok dengan menyerang kelompok atau rumpun lain.
Penyebab tawuran  beragam, mulai dari hal sepele sampai hal-hal serius yang menjurus pada tindakan kekerasan dan bentrokan.  Tawuran akhir-akhir ini melekat sekali dengan citra seorang pelajar, yang seharusnya tidak melakukan hal yang tercela ini. Biasanya permusuhan antar sekolah dimulai dari masalah yang sangat sepele. Namun remaja yang masih labil tingkat emosinya justru menanggapinya sebagai sebuah tantangan. Pemicu lain biasanya dendam kesumat lalu dengan rasa kesetiakawanan yang tinggi para siswa tersebut ingin membalas perlakuan yang disebabkan oleh siswa dari sekolah lain yang dianggap tidak menyenangkan salah satu pihak seperti, pemalakan, salah paham atau perang mulut yang awalnya hanya sebuah candaan atau hanya saling pandang, lalu terjadi salah paham yang menjadi awal perkelahian antar pelajar atau tawuran.
Bila dilihat secara mendalam penyebab tawuran adalah tingkat stres siswa yang cukup tinggi karena materi pendidikan di Indonesia cukup berat. Lalu ditinjau dari aspek psikologis, tawuran antar pelajar ini dapat terjadi karena ada situasi yang mengharuskan mereka menyelesaikan suatu permasalahan dengan cepat yang memaksa mereka harus berkelahi, lalu juga situasi dalam kelompok atau geng mereka, yang terdapat norma, kebisaan,  atau aturan yang mengharuskan mereka berkelahi, dan menimbulkan suatu kebanggaan apabila mereka melakukan apa yang diharapkan oleh kelompoknya. Stigma bahwa tawuran itu lelaki juga mencengkram kuat dalam pemikiran para pelajar. Juga banyaknya waktu luang atau libur yang dimiliki siswa diduga juga menjadikan tawuran sebagai suatu kegiatan “sampingan” mereka. Terlebih ketika Ujian Nasional selesai, banyak siswa yang melakukan tawuran dan menyebutnya sebagai “tawuran terakhir”.
            Faktor yang menyebabkan tawuran sebernarnya dapat dibagi menjadi dua faktor yaitu, faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang dimaksud adalah adaptasi remaja pada situasi lingkungan yang mempunyai keanekaragaman pandangan, budaya, tingkat ekonomi, dan semua rangsang dari lingkungan yang makin lama makin beragam dan banyak atau disebut kompleks. Situasi ini biasanya menimbulkan tekanan pada setiap orang. Tapi pada remaja yang terlibat perkelahian, mereka kurang mampu untuk mengatasinya, apalagi memanfaatkan situasi ini untuk pengembangan dirinya. Mereka biasanya mudah putus asa, cepat melarikan diri dari masalah, menyalahkan orang/pihak lain pada setiap masalahnya, dan memilih menggunakan cara tersingkat untuk memecahkan masalah yaitu, salah satunya dengan cara berkelahi.
Pada remaja yang sering berkelahi, ditemukan bahwa mereka mengalami konflik batin, mudah frustrasi, memiliki emosi yang labil, tidak peka terhadap perasaan orang lain, dan memiliki perasaan rendah diri yang kuat. Mereka biasanya sangat membutuhkan pengakuan. Krisis identitas tepatnya, dimana mereka tidak berhasil dalam proses pembentukan peran, lalu disertai juga dengan kontrol diri yang lemah menyebabkan mereka mudah untuk terseret ke area “nakal” remaja.
            Faktor eksternal, diantaranya adalah faktor keluarga. Salah satu penyebab kenakalan remaja dikarenakan tidak berfungsinya orang tua sebagai figure teladan yang baik bagi anak dan tawuran antar pelajar terjadi karena anak sering melihat kekerasan dalam keluarganya, lalu anak yang terlalu dilindungi keluarganya, ketika dia menemukan suatu kelompok, dia menyerahkan dirinya penuh pada kelompok tersebut.  Rumah seharusnya menjadi tempat untuk berkumpul, bercengkrama, berdiskusi dengan semua keluarga.  Bayangkan ketika siswa pulang ke rumah, orang tuanya tidak ada, lalu siswa tersebut dapat nilai kecil, ketika orang tua pulang lalu dimarahin orang tua. Apa rumah itu hanya dijadikan tempat singgah aja, tidak ada aktivitas saling berbagi di dalamnya? Ini faktor yang menyebabkan siswa mencari “kehidupan lain” di luar rumah.
Selanjutnya faktor sekolah, sekolah mempunyai fungsi yang sangat penting dan sangat khusus untuk menciptakan makhluk baru, yang dibentuk sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Untuk itu dibutuhkan sekali keselarasan antara harapan masyarakat dengan sistem pengajaran. Sekolah untuk lingkungan masyarakat militer harus berbeda dengan cara pengajaran di sekolah yang memperuntukkan anak didiknya untuk dunia industri. Sekolah harus menjadi tempat yang menyenangkan, dan kualitas sarana dan prasarana seperti, halaman, lapangan tempat bernmain juga harus mendukung serta, guru harus menjadi motivator serta, membuat suasana belajar hidup agar siswa tidak melakukan aktivitas di luar bersama teman-temannya.
Lalu juga ada faktor lingkungan, lingkungan yang tidak berkembang dan tidak mendukung pendidikan, rumah-rumah yang berhimpit, lalu juga lingkungan yang penuh dengan kriminalitas serta, lingkungan yang tidak menerima eksistensi para remaja juga menjadi salah satu faktor pemicu seorang pelajar atau remaja melakukan perbuatan-perbuatan anarki. Dalam pencarian jati diri mereka perlu adanya pengakuan diri.
Dampak dari tawuran itu sendiri dapat dilihat dari aspek fisik, tawuran dapat menyebabkan kematian dan luka berat bagi para siswa. Kerusakan yang parah pada kendaraan, kaca gedung, rumah atau rusaknya fasilitas umum yang terkena lemparan batu atau benda lain saat terjadi tawuran. Sedangkan aspek mentalnya, tawuran dapat menyebabkan trauma pada para siswa yang menjadi korban, merusak mental para generasi muda, dan menurunkan kualitas pendidikan di Indonesia, dan kekahawtairan para pendidik akan hilangnya moral juga sikap toleransi di diri siswa mereka, dimana semua dinilai harus diselesaikan dengan cara tawuran dan kekerasan.
Kasus-kasus tawuran antar pelajar ini harusnya dapat diatasi apabila kita menemukan suatu solusi yang tepat untuk permasalahan ini. Berperilaku sopan, baik, adil dan tidak merendahkan orang lain, lalu menyelesaikan setiap masalah harus dengan mencermati bagaimana terjadinya masalah dan dengan cara yang baik, berpendapat dengan baik, menyadari akan bahayanya pada saat tawuran bagi diri sendiri dan masyarakat. Dasarnya tentu harus dari keluarga, keluarga harus menjadikan kondisi rumah yang baik dan nyaman bagi anak serta, orang tua harus menjaga emosi anak, agar anak selalu merindukan rumah dan yang penting buatlah keluarga yang bahagia untuk masa depan yang baik.
Setelah keluarga, peran sekolah dengan memperketat peraturan agar tidak ada siswa yang pergi pada saat jam pelajaran juga harus dilakukan. Lalu sekolah juga mengadakan kegiatan-kegaitan yang menyalurkan energi siswa seperti, lomba-lomba olahraga atau kesenian, agar siswa tidak mempunyai terlalu banyak waktu kosong yang dapat dijadikan waktu untuk tawuran. Juga peran Bimbingan Koseling harus ditingkatkan dan lebih diaktifkan lagi, agar dapat dijadikan salah satu tempat siswa mencari solusi dari permasalahannya. Lalu peran aparat penegak hukum, agar memberi hukuman yang sesuai, agar mereka yang melakukan tawuran jera dan tidak mengulanginya lagi.
Selanjutnya, dari diri remaja itu sendiri juga harus pandai memilih teman dan lingkungan serta, harus memiliki ketahanan diri terhadap segala hal yang negatif. Lalu yang terpenting dari itu semua adalah pendidikan agama yang mampu membentuk moral seseorang agar tidak melakukan hal yang negatif termasuk tawuran.
Jadi, tawuran adalah tindakan yang kurang sportif dan harusnya ditinggalkan karena sama sekali tidak memberikan efek positif terhadap penggunanya. Hilangkan stigma, laki itu tawuran dan sebagainya. Keren itu gak perlu tawuran, kan? Coba alihkan kepada model persaingan yang lebih sportif, seperti perlombaan futsal, basket, atau apa pun yang menyalurkan keinginan dan hobi kalian, juga mengisi waktu luang kalian dengan hal-hal yang positif dan dapat membangun diri kalian ke arah yang lebih baik.

Pojok Esai 8


Sastra Cyber
Oleh : Andika Wiranata

Sastra kini sedang mekar-mekarnya bagai bunga di musim semi. Karya sastra dalam berbagai bentuk seperti, puisi, cerpen ataupun esai kini seperti menemukan sebuah ruang publikasi baru. Ruang publikasi yang cepat dan tidak perlu menunggu waktu berhari-hari karena sikap ketat redaktur sastra di media cetak. Sikap ketat tersebut karena mengingat di media cetak  yang halamannya terbatas untuk rubrik tersebut. Sastra cyber kian ramai seiring menjamurnya jejaring sosial di internet seperti facebook, twitter, dan blogger.
Beragam komunitas sastra cyber semakin banyak, sehingga kita akan sedikit kesulitan mengikuti perkembangan dan gerak sastra cyber dewasa ini. Mereka begitu cepat, sejenak saja kita rehat, komunitas sastra yang lain akan bermunculan. Mobilitas karya satra di dunia maya sangat sibuk dan padat. Kesibukan dan kepadatan mobilitas sastra di internet, tidak akan membuat menimbulkan kemacetan publikasi teks sastra tersebut. Namun, yang akan terjadi adalah kesulitan memetakan dan usaha mengikuti laju perkembangan sastra di dunia yang hanya sebesar layar monitor. Pergerakan teks sastra yang dapat menembus budaya dan tempat membuat sastra cyber seperti angin, dapat hadir dimanapun bahkan, di suatu program kecil sekalipun.
Setiap orang sekarang sangat mudah mendirikan komunitas jejaring sosial di atas nama sastra dalam hitungan menit. Bayangkan, banyak sekali komunitas sastra di jejaring sosial seperti di facebook, twitter dan blogger. Orang-orang meras terpanggil untuk ambil bagian dalam komunitas sastra tersebut. Sejalan dengan perkembangan teknologi dan kemajuan program, bukan rahasia lagi komunitas sastra di dunia maya ikut bergerak dan mengikuti trend dalam jejaring sosialnya. Jika kali ini facebook dan twitter yang sedang booming maka, tidak mengherankan banyak follower sastra atau umat sastra mendirikan komunitas sastra di facebook dan twitter.
Komunitas sastra maya ini mampu menarik perhatian para penulis pemula bahkan, para penulis senior atau tua. Sastra tampil tanpa ada sekat-sekat pembatas. Sekat-sekat yang secara tampilan luar pernah timbul ke permukaan di beberapa daerah misalnya, muncul istilah penyair muda dan penyair tua itu kini hilang seketika. Siapapun kini duduk sama rendah berdiri sama tinggi ketika anda berbicara mengnai sastra. Bahkan, penyair senior pun juga telah punya akun jejaring sosial mereka sendiri.
Setiap orang atau siapapun kini hanya dalam sekejap bisa mempublikasikan karya sastra dan mendapatkan komentar dari orang lain. Mobilitas teks sastra di akun-akun jejaring sosial saja kini bisa dikatakan overload. Umat sastra di jejaring sosial ini cenderung memposisikan diri untuk dikomentari, disapa dan diperhatikan.
Setiap waktu, kita yang bergabung dalam kelompok sastra cyber akan disuguhi beragam karya sastra. Lalu, tidak mengherankan bila di suatu saat yang telah berlalu seseorang bisa disuguhi puluhan bahkan, ratusan teks sastra dalam hitungan detik dan menit. Situasi ini menggiring seseorang untuk bersikap selektif dan dengan sendirinya mengabaikan pihak-pihak lain. Kejenuhan karena kebanjiran teks sastra suatu saat akan membuat orang-orang tersebut menemukan titik jenuh.
Kejenuhan demikian ada karena yang terjadi overload komunitas cyber di akun-akun jejaring sosial entah itu di facebook, twitter, blogger atau jejaring sosial lainnya. Banyak pelaku sastra yang sebenarnya hanya sibuk dengan dirinya sendiri. Kelahiran teks sastra begitu mudah, tapi mudah juga untuk dilupakan serta, tidak dirawat dan dijaga karena orang sibuk dengan dirinya sendiri.
Komentar orang akan karya sastra yang dipublikasikan di komunitas sastra maya hanya sekadar suka atau tidaknya terhadap karya sastra, bukan mengenai makna apresiasi sastra yang sesungguhnya. Tentu, hal ini di luar dari apa yang diharapkan dari sesorang yang menghasilkan karya sastra dan orang-orang yang memahami benar mengenai sastra yang menggunakan dunia maya dalam mempublikasikan karyanya.
Sastra di dunia maya, sebelum dipublikasikan seharusnya benar-benar dibuat dengan citra rasa sastra yang tinggi agar menjadi sastra yang berkualitas dan diingat orang. Sastra yang dipandang orang adalah sastra yang tercetak dan di buku. Sastra di komunitas sastra seakan hanya luapan narsis seseorang. Parameter sastra tetap diukur dari sikap ketat akan teks sastra. Komunitas-komunitas sastra cyber suatu saat akan manyadari bahwa eksistensi mereka perlu diwujudkan dalam buku atau barang cetak. Komunitas-komunitas sastra maya atau sastra cyber adalah tempat untuk berproses dan belajar menempa diri. Setiap orang yang tergabung boleh masuk, keluar, atau berpindah-pindah ke komunitas-komunitas cyber berbasis sastra tanpa prosedur dan kesulitan besar.
Sastra Cyber bukan tidak mungkin suatu saat bisa menjadi tandingan sastra koran asalkan dikelola dengan baik melalui website-website yang bermutu dan berkualitas. Website-website yang sejajar dengan media cetak atau koran dalam sikap ketat dan penghargaan lebih terhadap karya sastra. Komunitas-komunitas sastra cyber dewasa ini memang memiliki kencenderungan ke arah serius untuk membuat, memiliki serta, mengelola website komunitas sastra dengan baik dan tentunya berkulitas.
Sejauh ini, situs-situs berbasis sastra cenderung tidak dapat bertahan meski telah memberlakukan sikap ketat terhadap teks sastra. Hal ini terjadi karena kurang gigihnya pengelola situs atau website sastra tersebut mencari dukungan dalam bentuk iklan atau sponsor sehingga penghargaan terhadap teks sastra yang lolos seleksi dan terpublikasi terkesan diabaikan. Harapan penulis, sastra di hari esok nanti, sastra cetak dan sastra cyber bisa duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dan keduanya dapat menjadi parameter sastra nusantara apabila sastra cyber melalui website-websitenya dikelola dengan sikap ketat dan memberi penghargaan lebih terhadap karya sastra. Sehingga sastra cyber juga punya tempat yang layak dan apresiasi yang baik sama seperti sastra cetak. Semoga.

Pojok Esai 7

PSSI Tanpa Judul
Oleh : Andika Wiranata
 Kisruh dan seperti tidak ada yang bisa kita ucapkan selain kata “kecewa” dengan dualisme yang terjadi di Induk Organisasi Sepakbola di Indonesia yang memiliki otoritas paling tinggi mengenai persebakbolaan di Indonesia yaitu, PSSI. Tidak ada hentinya meributkan hal-hal yang semestinya bisa disikapi dengan kalem dan duduk bersama di meja sambil minum teh atau kopi.
Diawali dengan rezim Nurdin Halid dengan segala kontroversinya. Memimpin PSSI dibalik jeruji besi, karena ia tersandung kasus korupsi. Gelombang pergolakan terus terjadi menolak kepemimpinan putra Makassar tersebut. Sebelum rezimnya dijatuhkan, sudah ada segelintir orang yang melakukan reformasi bahkan, membuat kompetisi tandingan yang diprakarsai oleh Arif Panigoro, kompetisi itu bernama, Liga Primer Indonesia.
Kisruh berlanjut hingga kepemimpinan Johar Arifin yang naik menggantikan Nurdin Halid. Namun, kali ini tidak hanya kompetisi yang ada dua tapi, badan organisasi ini pun terpecah manjadi dua. Ini disebabkan oleh kekalahan telak Timnas Indonesia atas Bahrain, 0-10 di ajang kualifikasi Piala Dunia 2014. Ini diakibatkan karena pemain yang dipanggil adalah pemai-pemain yang memiliki jam terbang internasional yang minim atau baru pertama kali dipanggil. Timnas yang dipanggil pun hanya berasal dari satu kompetisi yaitu, dari Liga Prima Indonesia sedangkan, dari Liga Super Indonesia, liga dimana pemain-pemain sekelas Titus Bonai, Bambang Pamungkas, dan Okto Maniani bermain, tidak ada pemain yang boleh dipanggil karena Liga Super Indonesia dianggap liga ilegal.
 Akhirnya, diadakan kongres luar biasa dan sepakat untuk memilih Layala sebagai ketua umum PSSI yang baru. Namun, PSSI versi Johar menolak lengser, dan ini terus berlangsung hingga pembentukan timnas yang sekarang memiliki dua timnas, timnas PSSI versi Djohar, dan timnas versi Layala. Pelatih timnas pun ada dua, timnas versi Djohar ditangani oleh Nilmaizar dan timnas versi Layala ditangani oleh mantan pelatih timnas yaitu, Alfred Riedl.
Indonesia berusaha untuk mewujudkan iklim persepakbolaan yang kondusif sehingga bisa membentuk timnas yang kuat. Namun sayangnya, sepakbola di Indonesia dijadikan alat politik oleh segelintir orang dan tempat untuk merauk pundi-pundi keuntungan. Indonesia menginginkan iklim kompetisi seperti liga-liga besar di dunia seperti Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, dan liga besar lain di dunia. Indonesia mencoba berorientasi mewujudkan iklim sepakbola industri mengingat keuntungan yang besar dari sponsor dan dari sepakbola itu sendiri. Lalu, apakah berhasil? Ya, kita bisa lihat keadaan yang tidak karuan ini. Timnas menjadi imbas, beberapa pemain potensial tidak dapat bergabung dengan timnas karena dianggap bermain di liga ilegal.
Pemerintah Indonesia pun seperti tidak terlalu bisa mencampuri urusan PSSI, karena ada kode etik dari FIFA, dimana negara tidak boleh mengintervensi PSSI. Bahkan, pemerintah seakan tidak peduli dengan keadaan PSSI yang penuh dengan dualisme. Begitu pun dengan FIFA yang seakan tidak menghiraukan masalah yang terjadi di Indonesia. Bahkan, peringkat FIFA Indonesia terus merosot jauh. Di Asia Tenggara pun Indonesia cukup sulit bersaing, terakhir timnas muda kita dalam sejarah dikalahkan oleh Brunei Darussalam dengan skor meyakinkan 0-2 dalam suatu ajang kejuaraan.
Seharusnya konflik ini harus cepat diakhiri agar sepakbola kita dapat berprestasi. Hialngkan sifat egois untuk menjadikan PSSI sebagai alat untuk memenuhi kepentingan segelintir orang yang mengaku berjuang untuk sepakbola Indonesia. Harus diadakan mediasi dan kosisliasi terhadap pihak-pihak yang berseteru dan mengajak pihak-pihak tersebut melepas egonya masing-masing, dan mulai berjuang bersama untuk kemajuan sepakbola di Indonesia.
Jadikan, semua satu ide-ide pemikiran untuk memajukan sepakbola Indonesia. Bukan tidak mungkin supporter sepakbola kita jengah, jenuh dan malas-malasan mendukung timnas lagi, karena timnas yang kurang kompetitif dan selalu menyajikan kekalahan serta, carut-marut kompetisi yang tidak karuan. Wasit yang kurang adil, pemain yang ribut di lapangan, dan seluruh elemen di lapangan harus juga menjadi perhatian orangh-orang yang cinta sepakbola Indonesia, semua pihak terutama PSSI untuk membenahi kompetisi dan timnas. Terakhir kabar, pihak-pihak yang berseteru sudah mulai berunding dan mencari solusi dari permasalahan ini semua.
Jadi, tentu saja kita sebagai pendukung timnas merah-putih harus mencoba membuka jalan pikiran para pihak yang berseteru agar mereka segera berdamai dan meniadakan konflik yang berkepanjangan di tubuh PSSI. PSSI harus dipimpin oleh orang yang memiliki kredibilitas dan kompeten dalam bidang ini, yaitu sepakbola. Satukan visi dan misi untuk memajukan prestasi sepakbola kita. Bagunkan Garuda yang sedang bertengger di atas pohon yang tinggi agar mau turun dan terbang kembali seperti dulu. Maju Timnas Garuda Indonesia!

Pojok Esai 6


Jejaring Sosial
Oleh : Andika Wiranata

Fenomena jejaring sosial di era global ini sangat merebak. Jejaring sosial seakan menjadi suatu kebutuhan. Mudahnya akses internet di era globalisasi ini, memudahkan para pencari informasi dan hiburan untuk menemukan apa yang dia inginkan. Hanya dengan mengetikan kata kunci pada mesin pencari, kita dapat mengakses informasi yang diinginkan. Begitu mudahnya, sehingga kita bisa merasakan betapa dekatnya dunia di hadapan kita.
Sekarang warga dunia akan lebih sibuk dengan gadget yang mereka miliki, mereka akan terus sepanjang hari bersentuhan dengan internet. Sekarang warga dunia pun mengenal yang namanya situs pertemanan yang lebih polpuler disebut jejaring soasial. Mulai dari friendster, facebook, twiter, plurk, dan masih banyak lagi macamnya.
Mereka tak henti-hentinya, setiap hari, jam, menit, detik atau bahkan setiap waktu membuka jejaring sosial yang mereka miliki hanya untuk mengomentari seseorang atau memperbarui status atau informasi tentang mereka. Sekarang seperti diiyakan bahwa jejaring sosial menjadi suatu kebutuhan yang harus dimiliki seseorang. Seseorang tidak dikatakan “ada” bila tidak mempunyai situs-situs pertemanan. Jejaring sosial lebih bisa dikatakan sebagai penanda eksistensi seseorang terhadap perkembangan dunia.
Warga di dunia seakan kecanduan dengan situs-situs pertemanan yang semakin beragam pilhan. Mungkin yang dulu, kita hanya mengenal e-mail atau surat elektronik sebagai alat komunikasi dalam dunia maya, sekarang kita mempunyai banyak pilihan yang beragam di internet untuk memilih situs pertemanan untuk berkomunikasi. Jejaring sosial terus mengupgrade fasilitas-fasilitas atau fitur-fitur yang disediakan dalam suatu situs pertemanan. Kita bisa chatting atau mengobrol, mengirim dokuman, games-games, bahkan video call dengan orang yang jaraknya sangat jauh, bahkan di luar negeri sekalipun, tentu dengan dukungan jaringan internet yang baik. Ini semua demi persaingan situs-situs pertemanan tersebut.
Jejaring sosial ini memiliki banyak manfaat seperti kita dapat bersosialisasi dengan orang tanpa lagi harus terbatasi oleh ruang, tempat, dan waktu. Jejaring sosial juga bisa menyatukan orang-orang yang memiliki kesukaan atau hobi yang sama. Selain itu, juga dapat menemukan kembali orang-orang yang sudah lama tidak bertemu seperti, orang-orang yang dulu satu sekolahan, teman kerja, dan sebagainya. Orang-orang juga menjadi mudah apabila ingin mengundang atau memberi tahu bila ada sebuah acara yang mereka akan adakan seperti, acara baksos, donor darah, seminar,dan juga reuni akbar. Jejaring sosial juga bisa sebagai ajang promosi, bila kita berjualan suatu produk seperti, jam tangan, tas, sepatu, baju dan lainnya. Selain barang-barang juga bisa sebagai tempat promosi grup musik atau band yang sedang merintis karir untuk memprkenalkan karya-karyanya.
Lalu, kita juga bisa memberikan informasi mengenai sesuatu yang dianggap penting sehingga semua orang dengan mudah mengaksesnya. Jejaring sosial juga bisa menjadi tempat curahan hati seseorang mengenai pekerjaannya, asmara, keluarga, dan sebagainya. Bahkan, curhat di jejaring sosial dapat mengurangi jumlah orang bunuh diri akibat stres di sebuah negara bagian di Amerika Serikat. Jejaring sosial juga banyak digunakan untuk menggalang solidaritas terhadap suatu ketidakadlian, dan sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama manusia.
Bahkan, sampai suatu merk handphone asal Kanada yaitu, Blackberry menambahkan fitur situs jeraing sosial khusus pengguna Blackberry yang dikenal dengan Balckberry Messangers, yang membuat beberapa pengguna handphone berlaih ke Balckberry.
  Begitu besar manfaat yang diberikan oleh jerjaing sosial, begitu hebat juga dampak negatif tang diberikan oleh jejaring sosial ini. Jejaring sosial bisa dijadikan tempat prostitusi, penipuan, perjudian, bahkan penculikan bisa berawal dari jejaring sosial ini, dan segala bentuk kriminalitas dapat pula terjadi di jejaring sosial atau situs pertemanan menjadi situs “berandalan”.
Selain tindak kriminalitas, bisa pula terjadi tindak doktrinisasi terhadap pesan-pesan ynag disebarkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Bahkan, yang paling parah adalah sesorang bisa meluapkan emosinya tanpa batas dan dapat diketahui oleh banyak orang yang melihatnya yang tentu dapat memancing konflik, perdebatan, permusuhan, atau “perang status”, bahkan ada yang berakhir sampai tindakan kriminal seperti, tindak pembunuhan. Ini tentu jauh dari tujuan diciptakannya situs pertemanan ini yang tentu saja untuk bersosialisasi dengan orang tanpa melihat batas ruang, waktu, dan jarak.
Maka dari itu, sebagai orang yang hidup di era global ini, harus benar-benar bisa memaknai setiap perubahan dan jangan menerima mentah-mentah begitu saja. Kita harus menggunakan nalar, agar sesuai dengan tujuan dan batas-batas yang bertanggung jawab agar tercipta suatu harmonisasi. Semoga jejaring sosial dapat terus memberikan dampak yang baik pada setiap penggunanya dan dapat memininalisir setiap dampak buruk yang ditimbulkannya. Semoga.

Pojok Esai 5


Pemanfaatan Lahan di Jakarta
Oleh : Andika Wiranata

Jakarta, kota yang terkenal dengan hiruk-pikuk yang berlangsung hingga larut malam ini, ternyata membangun sejumlah bengunan yang dianggap hanya berorientasi pada kalangan tertentu saja dan akhir-akhir ini tanah lapang di Jakarta pun semakin berkurang. Presentasenya tiap tahun semakin berkurang. Apa saja bangunan tersebut? Bangunan tersebut seperti perumahan mewah, mall-mall besar, dan lain-lain.
Sungguh ironis memang, di tengah gembar-gembor untuk menyediakan lahan terbuka hijau untuk resapan air, pemerintah daerah DKI Jakarta malah seakan merelakan untuk memberikan izin berhektar-hektar tanah lapang untuk dijadikan bangunan yang hanya diperuntukan untuk kaum kelas atas. Pemerintah daerah DKI Jakarta seakan hanya mengincar keuntungan dari pajak-pajak bangunan seperti dari mall dan bangunan-bangunan mewah lainnya.
Perkembangan pembangunan mall sangat pesat di DKI Jakarta, hingga tahun 2012 saja, sudah lebih dari ratusan mall dibangun, dan sampai sekarang terus bertambah. Pusat-pusat perbelanjaan ini tidak hentinya memakan korban tanah lapang yang seharusnya bisa dibangun taman-taman, yang tentunya sangat berguna bagi kehidupan orang-orang yang ada di sekitarnya.
Selain, untuk melepas penat, tempat rekreasi, juga sebagai arena bermain anak-anak, taman juga bermanfaat sebagai daerah resapan air hujan dan paru-paru kota. Kurangnya ruang terbuka hijau di DKI Jakarta harusnya menjadi prioritas utama Pemda DKI Jakarta dalam penggunaan lahan-lahan kosong.
Selain taman, mungkin Pemda DKI Jakarta juga bisa membangun waduk-waduk yang berfungsi sebagai tempat resapan air dan cadangan air bersih. Pembangunan waduk pun, juga merupakan salah satu jawaban untuk mengatasi salah satu permasalahan Ibukota Indonesia ini yaitu, banjir. Waduk-waduk tidak hanya berfungsi sabagai tempat resapan atau cadangan air bersih tapi, bila bisa dikemas dengan menarik, waduk-waduk tersebut bisa menjadi tempat rekreasi.
Waduk dan juga taman yang dikemas dengan menarik, penataan yang bagus, lalu perawatannya yang baik, tentu di situ ada peluang bagi masyarakat kecil untuk membuka lapangan pekerjaan seperti, kedai makanan dan minuman, cendera mata khas derah itu, pernak-pernik, dan lain-lain.
Keadaan seperti ini tentu dapat menambah pendapatan warga di sekitar tempat tersebut juga, yang pasti dapat banyak membuka lapangan kerja dengan sendirinya. Hal ini yang harusnya menjadi pertimbangan Pemda DKI Jakarta, mereka seharusnya tidak berorientasi pada keuntungan besar semata dan membuat warga Jakarta sebagai konsumen saja, karena hanya mall-mall saja yang dibangun tapi, perlu memikirkan nasib rakyat kecil yang tinggal dan hidup di Jakarta.
Pemerintah DKI Jakarta juga semestinya menggunakan lahan-lahan tersebu tdengan bijak. Pemda DKI Jakarta boleh membangun perumahan tapi, perumahan untuk rakyat kecil atau membangun rumah susun yang hanya dipriositaskan kepada rakyat kecil bukan perumahan mewah dengan angsuran beratus-ratus juta. Lalu pemerintah DKI Jakarta juga boleh memanfaatkan lahan dengan membangun pusat perbelajaan tapi, berupa pasar tradisional yang tentu diperuntukan kepada rakyat kecil, buka mall-mall yang megah yang hanya dapat dinikmati kalangan tertentu.
Pemerintah DKI Jakarta harus konsisten dengan program-programnya dan jangan melulu mengikuti orientasi pada laba yang tidak berpihak kepada rakyat kecil di DKI Jakarta. Pemerintah daerah DKI Jakarta harus menjadi contoh bagi daerah-daerah lain yang ada di Indonesia dalam hal penggunaan lahan yang efisien.
Tentu, kita masih ingat beberapa headline di media massa, mengenai pembukaan lahan di DKI Jakarta. Upaya ini dilakukan untuk memenuhi kuota 30% minimal kota, memilki ruang terbuka hijau dan daerah resapan air. Beberapa pom pengisian bahan bakar dan mall-mall atau tempat hiburan yang menyalahi izin atau berdiri di tempat yang tidak seharuanya akan dibongkar paksa, dan akan dibangun taman-taman hijau. Hal ini pernah kita lihat, ketika Stadion Menteng, disulap menjadi Taman Menteng.
Jadi, ini adalah sedikit cubitan kecil untuk Pemda DKI Jakarta mengenai inkonsistensi Pemda DKI Jakarta dalam programnya mengenai pembukaan lahan terbuka hijau yang ternyata hanya sebuah gembar-gembor dan nyanyian lalu. Semoga pemerintah daerah DKI Jakarta cepat tanggap akan hal lahan terbuka hijau yang sangat dibutuhkan di daerah perkotaan saat ini dan penting untuk kondisi DKI Jakarta kedepannya.

Pojok Esai 4

Menghilangnya Lagu Anak-Anak
Oleh : Andika Wiranata

Memasuki perubahan zaman, waktu demi waktu terus berganti dan tidak ada yang bisa menahan perubahan itu. Semua terasa ekstrem ketika ada segelintir orang yang hidup di beberapa zaman lalu atau zaman sebelum Indonesia merdeka dan mereka masih hidup sampai sekarang, mereka tentu sangat merasakan perubahan itu.
Pergeseran norma dan nilai di dalam masyarakat pun menjadi hal biasa. Saking mudah dan gampangnya orang mengakses informasi tanpa disertai filter ekstern dan intern tentu akan membuat seseorang terjerumus pada sebuah lubang yang salah. Apalagi sekarang anak-anak pun denagn mudah mengakses informasi juga melalui internet. Mereka juga telah mengenal baik benda yang bernama komputer.
Berbicara mengenai perubahan, disini tentu kita akan mengenang perbedaan yang besar antara masa kecil yang kita lalui dulu dengan masa kecil yang dilalui oleh adik-adik kita sekarang. Mereka hidup di zaman teknologi yang semua serba mudah. Namun, memang tidak semuanya berubah tapi, ada pula hal yang dirasakan hilang, apabila kita yang sudah dewasa ini, melihat masa kecil adik-adik kita saat ini.
Mereka kehilangan senandung-senandung bertema kecerian, yang pada akhir tahun 90-an sangat bergema yaitu, lagu anak-anak. Tentu kita tahu yang sudah dewasa ini, pengarang lagu anak yang terkenal seperti, Papa T. Bob, Pak Kasur, Ibu Sud, dan A.T. Mahmud. Sekarang lagu anak-anak benar-benar berkurang dan mulai hilang dari peredaran walaupun ada, sifatnya tidak membooming seperti di akhir tahun 90-an. Tentu kita masih ingat lagu ciptaan dari Ibu Sud, Pak Kasur, dan A.T. Mahmud.
Ibu Sud dengan lagu berjudul Lihat Kebunku, Burung Kutilang, Menanam Jagung, Naik Delman, dan lain-lain. Lalu ada Pak Kasur dengan Selamat Pagi Bu Guru, Kucingku, dan yang paling akrab di telinga kita adalah Topi Saya Bundar. Selanjutnya ada A.T. Mahmud yang juga menciptakan banyak lagu anak-anak, seperti, Paman Datang, Bintang Kejora, Aku Anak Indonesia, dan masih banyak lagi. Belum lagi lagu anak-anak seperti, Nina Bobo, Bangun Tidur, Bunda Piara, Cicak di Dinding, Kelinciku, dan Naik Kereta Api yang pengarang lagunya tidak diketahui.
Lagu-lagu itu terus kita nyanyikan semenjak kita masih anak-anak. Kita pun masih bisa melihat penyanyi anak-anak yang sekarang sudah menjadi dewasa seperti, Joshua yang terkenal dengan lagu Diobok-obok, Tina Toon dengan lagu Bolo-bolo, lalu ada juga Sherina, dan Agnes Monica yang fenomenal.
Keadaan sekarang tentu berbeda dengan dahulu. Dulu orang membuat lagu anak-anak dengan lirik “anak-anak” dan berorientasi benar-benar untuk anak-anak. Sekarang anak-anak dijadikan lahan untuk menambah penghasilan orang tuanya yang juga musisi dengan dalih untuk kembali menghidupkan lagi lagu anak-anak dengan vokal anak mereka sendiri, liriknya dan iramanya pun kurang sesuai dengan anak-anak, terlalu keras untuk anak-anak.
Lagu anak-anak seiring dengan tumbuh pesatnya industri musik kita, lagu anak-anak tersebut seakan terganti oleh lagu-lagu musisi band, boyband dan girlband, dangdut, dan ironisnya lagu-lagu dengan lirik dewasa inilah yang sekarang kita dengar dari senandung riang anak-anak yang mereka sendiri pun belum tentu tahu makna dari lirik lagu tersebut.
Kita juga tidak bisa menyalahkan anak kecil di zaman sekarang yang lebih senang menyanyikan lagu-lagu tersebut ketimbang lagu anak-anak yang sudah tidak ada lagi pembaharuan. Mungkin karena kreativitas orang-orang di zaman sekarang lebih berorientasi kepada uang, mereka memilih mengarang lagu untuk orang dewasa yang lebih menguntungkan, ketimbang untuk anak-anak.
Padahal anak-anak seharusnya menyanyikan lagu yang pantas dengan umur mereka dengan lirik yang sesuai dengan jiwa anak-anak yang ceria dan gembira, bukan dengan lirik sedih, galau, mendayu-dayu atau soal percintaan yang anak-anak pun sejatinya tidak mengerti arti dari lirik tersebut. Terkadang anak-anak juga kurang diperkenalkan lagi lagu anak-anak di lingkungan sekolah dan orang tua pun di rumah sibuk menyetel lagu dewasa atau dangdut.
Anak-anak karena lebih suka mendengarkan lagu-lagu dewasa, mereka juga melihat penampilan penyanyinya yang terkadang dengan pakaian yang kurang sopan untuk dilihat oleh anak-anak, anak-anak malah juga ikut mengikuti pakaian si penyanyi.
Lagu-lagu anak-anak menjadi minoritas. Perlu ada kreativitas dari generasi muda kita yang yang harus mengangkat kembali pamor lagu anak-anak agar mempunyai tempat di hati adik-adik kita. Sampai sekarang masih kita tunggu orang-orang penerus dari Ibu Sud, Pak Kasur, dan Pak A.T. Mahmud untuk menciptakan lagu anak-anak yang berkualitas. Beberapa musisi dan pencipta lagu pun sudah mulai sadar akan terpuruknya lagu-lagu anak-anak, mereka membuat lagu anak-anak atau menginstrumen ulang lagu anak-anak dengan aliran musik mereka, yang sebenarnya agak kurang masuk di telinga anak kecil, dan terkesan apa adanya serta, kurang mendapatkan respon yang baik dari anak-anak itu sendriri. Namun, usaha mereka tetap harus kita dukung demi kembalinya lagu anak-anak dalam peredaran musik di Indonesia.Semangat!