Halaman

Andika Wiranata

Rabu, 18 Juli 2012

Pojok Cerpen : Putu Wijaya


Guru

Cerpen Putu Wijaya

Anak saya bercita-cita menjadi guru. Tentu saja saya dan istri saya jadi shok. Kami berdua tahu, macam apa masa depan seorang guru. Karena itu, sebelum terlalu jauh, kami cepat-cepat ngajak dia ngomong.

"Kami dengar selentingan, kamu mau jadi guru, Taksu? Betul?!"
Taksu mengangguk.

"Betul Pak."
Kami kaget.

"Gila, masak kamu mau jadi g-u-r-u?"
"Ya."

Saya dan istri saya pandang-pandangan. Itu malapetaka. Kami sama sekali tidak percaya apa yang kami dengar. Apalagi ketika kami tatap tajam-tajam, mata Taksu nampak tenang tak bersalah. Ia pasti sama sekali tidak menyadari apa yang barusan diucapkannya. Jelas ia tidak mengetahui permasalahannya.

Kami bertambah khawatir, karena Taksu tidak takut bahwa kami tidak setuju. Istri saya menarik nafas dalam-dalam karena kecewa, lalu begitu saja pergi. Saya mulai bicara blak-blakan.

"Taksu, dengar baik-baik. Bapak hanya bicara satu kali saja. Setelah itu terserah kamu! Menjadi guru itu bukan cita-cita. Itu spanduk di jalan kumuh di desa. Kita hidup di kota. Dan ini era milenium ketiga yang diwarnai oleh globalisasi, alias persaingan bebas. Di masa sekarang ini tidak ada orang yang mau jadi guru. Semua guru itu dilnya jadi guru karena terpaksa, karena mereka gagal meraih yang lain. Mereka jadi guru asal tidak nganggur saja. Ngerti? Setiap kali kalau ada kesempatan, mereka akan loncat ngambil yang lebih menguntungkan. Ngapain jadi guru, mau mati berdiri? Kamu kan bukan orang yang gagal, kenapa kamu jadi putus asa begitu?!"

"Tapi saya mau jadi guru."
"Kenapa? Apa nggak ada pekerjaan lain? Kamu tahu, hidup guru itu seperti apa? Guru itu hanya sepeda tua. Ditawar-tawarkan sebagai besi rongsokan pun tidak ada yang mau beli. Hidupnya kejepit. Tugas seabrek-abrek, tetapi duit nol besar. Lihat mana ada guru yang naik Jaguar. Rumahnya saja rata-rata kontrakan dalam gang kumuh. Di desa juga guru hidupnya bukan dari mengajar tapi dari tani. Karena profesi guru itu gersang, boro-boro sebagai cita-cita, buat ongkos jalan saja kurang. Cita-cita itu harus tinggi, Taksu. Masak jadi guru? Itu cita-cita sepele banget, itu namanya menghina orang tua. Masak kamu tidak tahu? Mana ada guru yang punya rumah bertingkat. Tidak ada guru yang punya deposito dollar. Guru itu tidak punya masa depan. Dunianya suram. Kita tidur, dia masih saja utak-atik menyiapkan bahan pelajaran atau memeriksa PR. Kenapa kamu bodoh sekali mau masuk neraka, padahal kamu masih muda, otak kamu encer, dan biaya untuk sekolah sudah kami siapkan. Coba pikir lagi dengan tenang dengan otak dingin!"

"Sudah saya pikir masak-masak."
Saya terkejut.
"Pikirkan sekali lagi! Bapak kasi waktu satu bulan!"
Taksu menggeleng.
"Dikasih waktu satu tahun pun hasilnya sama, Pak. Saya ingin jadi guru."

"Tidak! Kamu pikir saja dulu satu bulan lagi!"
Kami tinggalkan Taksu dengan hati panas. Istri saya ngomel sepanjang perjalanan. Yang dijadikan bulan-bulanan, saya. Menurut dia, sayalah yang sudah salah didik, sehingga Taksu jadi cupet pikirannya.

"Kau yang terlalu memanjakan dia, makanya dia seenak perutnya saja sekarang. Masak mau jadi guru. Itu kan bunuh diri!"
Saya diam saja. Istri saya memang aneh. Apa saja yang tidak disukainya, semua dianggapnya hasil perbuatan saya. Nasib suami memang rata-rata begitu. Di luar bisa galak melebihi macan, berhadapan dengan istri, hancur.

Bukan hanya satu bulan, tetapi dua bulan kemudian, kami berdua datang lagi mengunjungi Taksu di tempat kosnya. Sekali ini kami tidak muncul dengan tangan kosong. Istri saya membawa krupuk kulit ikan kegemaran Taksu. Saya sendiri membawa sebuah lap top baru yang paling canggih, sebagai kejutan.

Taksu senang sekali. Tapi kami sendiri kembali sangat terpukul. Ketika kami tanyakan bagaimana hasil perenungannya selama dua bulan, Taksu memberi jawaban yang sama.

"Saya sudah bilang saya ingin jadi guru, kok ditanya lagi, Pak," katanya sama sekali tanpa rasa berdosa.
Sekarang saya naik darah. Istri saya jangan dikata lagi. Langsung kencang mukanya. Ia tak bisa lagi mengekang marahnya. Taksu disemprotnya habis.

"Taksu! Kamu mau jadi guru pasti karena kamu terpengaruh oleh puji-pujian orang-orang pada guru itu ya?!" damprat istri saya. "Mentang-mentang mereka bilang, guru pahlawan, guru itu berbakti kepada nusa dan bangsa. Ahh! Itu bohong semua! Itu bahasa pemerintah! Apa kamu pikir betul guru itu yang sudah menyebabkan orang jadi pinter? Apa kamu tidak baca di koran, banyak guru-guru yang brengsek dan bejat sekarang? Ah?"

Taksu tidak menjawab.
"Negara sengaja memuji-muji guru setinggi langit tetapi lihat sendiri, negara tidak pernah memberi gaji yang setimpal, karena mereka yakin, banyak orang seperti kamu, sudah puas karena dipuji. Mereka tahu kelemahan orang-orang seperti kamu, Taksu. Dipuji sedikit saja sudah mau banting tulang, kerja rodi tidak peduli tidak dibayar. Kamu tertipu Taksu! Puji-pujian itu dibuat supaya orang-orang yang lemah hati seperti kamu, masih tetap mau jadi guru. Padahal anak-anak pejabat itu sendiri berlomba-lomba dikirim keluar negeri biar sekolah setinggi langit, supaya nanti bisa mewarisi jabatan bapaknya! Masak begitu saja kamu tidak nyahok?"

Taksu tetap tidak menjawab.
"Kamu kan bukan jenis orang yang suka dipuji kan? Kamu sendiri bilang apa gunanya puji-pujian, yang penting adalah sesuatu yang konkret. Yang konkret itu adalah duit, Taksu. Jangan kamu takut dituduh materialistis. Siapa bilang meterialistik itu jelek. Itu kan kata mereka yang tidak punya duit. Karena tidak mampu cari duit mereka lalu memaki-maki duit. Mana mungkin kamu bisa hidup tanpa duit? Yang bener saja. Kita hidup perlu materi. Guru itu pekerjaan yang anti pada materi, buat apa kamu menghabiskan hidup kamu untuk sesuatu yang tidak berguna? Paham?"

Taksu mengangguk.
"Paham. Tapi apa salahnya jadi guru?"
Istri saya melotot tak percaya apa yang didengarnya. Akhirnya dia menyembur.

"Lap top-nya bawa pulang saja dulu, Pak. Biar Taksu mikir lagi! Kasih dia waktu tiga bulan, supaya bisa lebih mendalam dalam memutuskan sesuatu. Ingat, ini soal hidup matimu sendiri, Taksu!"

Sebenarnya saya mau ikut bicara, tapi istri saya menarik saya pergi. Saya tidak mungkin membantah. Di jalan istri saya berbisik.

"Sudah waktunya membuat shock therapy pada Taksu, sebelum ia kejeblos terlalu dalam. Ia memang memerlukan perhatian. Karena itu dia berusaha melakukan sesuatu yang menyebabkan kita terpaksa memperhatikannya. Dasar anak zaman sekarang, akal bulus! Yang dia kepingin bukan lap top tapi mobil! Bapak harus kerja keras beliin dia mobil, supaya mau mengikuti apa nasehat kita!"

Saya tidak setuju, saya punya pendapat lain. Tapi apa artinya bantahan seorang suami. Kalau adik istri saya atau kakaknya, atau bapak-ibunya yang membantah, mungkin akan diturutinya. Tapi kalau dari saya, jangan harap. Apa saja yang saya usulkan mesti dicurigainya ada pamrih kepentingan keluarga saya. Istri memang selalu mengukur suami, dari perasaannya sendiri.

Tiga bulan kami tidak mengunjungi Taksu. Tapi Taksu juga tidak menghubungi kami. Saya jadi cemas. Ternyata anak memang tidak merindukan orang tua, orang tua yang selalu minta diperhatikan anak.

Akhirnya, tanpa diketahui oleh istri saya, saya datang lagi. Sekali ini saya datang dengan kunci mobil. Saya tarik deposito saya di bank dan mengambil kredit sebuah mobil. Mungkin Taksu ingin punya mobil mewah, tapi saya hanya kuat beli murah. Tapi sejelek-jeleknya kan mobil, dengan bonus janji, kalau memang dia mau mengubah cita-citanya, jangankan mobil mewah, segalanya akan saya serahkan, nanti.

"Bagaimana Taksu," kata saya sambil menunjukkan kunci mobil itu. "Ini hadiah untuk kamu. Tetapi kamu juga harus memberi hadiah buat Bapak."

Taksu melihat kunci itu dengan dingin.
"Hadiah apa, Pak?"

Saya tersenyum.
"Tiga bulan Bapak rasa sudah cukup lama buat kamu untuk memutuskan. Jadi, singkat kata saja, mau jadi apa kamu sebenarnya?"

Taksu memandang saya.
"Jadi guru. Kan sudah saya bilang berkali-kali?"

Kunci mobil yang sudah ada di tangannya saya rebut kembali.
"Mobil ini tidak pantas dipakai seorang guru. Kunci ini boleh kamu ambil sekarang juga, kalau kamu berjanji bahwa kamu tidak akan mau jadi guru, sebab itu memalukan orang tua kamu. Kamu ini investasi untuk masa depan kami, Taksu, mengerti? Kamu kami sekolahkan supaya kamu meraih gelar, punya jabatan, dihormati orang, supaya kami juga ikut terhormat. Supaya kamu berguna kepada bangsa dan punya duit untuk merawat kami orang tuamu kalau kami sudah jompo nanti. Bercita-citalah yang bener. Mbok mau jadi presiden begitu! Masak guru! Gila! Kalau kamu jadi guru, paling banter setelah menikah kamu akan kembali menempel di rumah orang tuamu dan menyusu sehingga semua warisan habis ludes. Itu namanya kerdil pikiran. Tidak! Aku tidak mau anakku terpuruk seperti itu!"

Lalu saya letakkan kembali kunci itu di depan hidungnya. Taksu berpikir. Kemudian saya bersorak gegap gembira di dalam hati, karena ia memungut kunci itu lagi.

"Terima kasih, Pak. Bapak sudah memperhatikan saya. Dengan sesungguh-sungguhnya, saya hormat atas perhatian Bapak."
Sembari berkata itu, Taksu menarik tangan saya, lalu di atas telapak tangan saya ditaruhnya kembali kunci mobil itu.

"Saya ingin jadi guru. Maaf."
Kalau tidak menahan diri, pasti waktu itu juga Taksu saya tampar. Kebandelannya itu amat menjengkelkan. Pesawat penerimanya sudah rusak. Untunglah iman saya cukup baik. Saya tekan perasaan saya. Kunci kontak itu saya genggam dan masukkan ke kantung celana.

"Baik. Kalau memang begitu, uang sekolah dan uang makan kamu mulai bulan depan kami stop. Kamu hidup saja sendirian. Supaya kamu bisa merasakan sendiri langsung bagaimana penderitaan hidup ini. Tidak semudah yang kamu baca dalam teori dan slogan. Mudah-mudahan penderitaan itu akan membimbing kamu ke jalan yang benar. Tiga bulan lagi Bapak akan datang. Waktu itu pikiranmu sudah pasti akan berubah! Bangkit memang baru terjadi sesudah sempat hancur! Tapi tak apa."

Tanpa banyak basa-basi lagi, saya pergi. Saya benar-benar naik pitam. Saya kira Taksu pasti sudah dicocok hidungnya oleh seseorang. Tidak ada orang yang bisa melakukan itu, kecuali Mina, pacarnya. Anak guru itulah yang saya anggap sudah kurang ajar menjerumuskan anak saya supaya terkiblat pikirannya untuk menjadi guru. Sialan!

Tepat tiga bulan kemudian saya datang lagi. Sekali ini saya membawa kunci mobil mewah. Tapi terlebih dulu saya mengajukan pertanyaan yang sama.
"Coba jawab untuk yang terakhir kalinya, mau jadi apa kamu sebenarnya?"

"Mau jadi guru."
Saya tak mampu melanjutkan. Tinju saya melayang ke atas meja. Gelas di atas meja meloncat. Kopi yang ada di dalamnya muncrat ke muka saya.

"Tetapi kenapa? Kenapa? Apa informasi kami tidak cukup buat membuka mata dan pikiran kamu yang sudah dicekoki oleh perempuan anak guru kere itu? Kenapa kamu mau jadi guru, Taksu?!!!"

"Karena saya ingin jadi guru."
"Tidak! Kamu tidak boleh jadi guru!"

"Saya mau jadi guru."
"Aku bunuh kau, kalau kau masih saja tetap mau jadi guru."

Taksu menatap saya.
"Apa?"

"Kalau kamu tetap saja mau jadi guru, aku bunuh kau sekarang juga!!" teriak saya kalap.
Taksu balas memandang saya tajam.

"Bapak tidak akan bisa membunuh saya."
"Tidak? Kenapa tidak?"

"Sebab guru tidak bisa dibunuh. Jasadnya mungkin saja bisa busuk lalu lenyap. Tapi apa yang diajarkannya tetap tertinggal abadi. Bahkan bertumbuh, berkembang dan memberi inspirasi kepada generasi di masa yanag akan datang. Guru tidak bisa mati, Pak."

Saya tercengang.
"O… jadi narkoba itu yang sudah menyebabkan kamu mau jadi guru?"

"Ya! Itu sebabnya saya ingin jadi guru, sebab saya tidak mau mati."
Saya bengong. Saya belum pernah dijawab tegas oleh anak saya. Saya jadi gugup.

"Bangsat!" kata saya kelepasan. "Siapa yang sudah mengotori pikiran kamu dengan semboyan keblinger itu? Siapa yang sudah mengindoktrinasi kamu, Taksu?"

Taksu memandang kepada saya tajam.
"Siapa Taksu?!"

Taksu menunjuk.
"Bapak sendiri, kan?"
Saya terkejut.

"Itu kan 28 tahun yang lalu! Sekarang sudah lain Taksu! Kamu jangan ngacau! Kamu tidak bisa hidup dengan nasehat yang Bapak berikan 30 tahun yang lalu! Waktu itu kamu malas. Kamu tidak mau sekolah, kamu hanya mau main-main, kamu bahkan bandel dan kurang ajar pada guru-guru kamu yang datang ke sekolah naik ojek. Kamu tidak sadar meskipun sepatunya butut dan mukanya layu kurang gizi, tapi itulah orang-orang yang akan menyelamatkan hidup kamu. Itulah gudang ilmu yang harus kamu tempel sampai kamu siap. Sebelum kamu siap, kamu harus menghormati mereka, sebab dengan menghormati mereka, baru ilmu itu bisa melekat. Tanpa ada ilmu kamu tidak akan bisa bersaing di zaman global ini. Tahu?"

Satu jam saya memberi Taksu kuliah. Saya telanjangi semua persepsinya tentang hidup. Dengan tidak malu-malu lagi, saya seret nama pacarnya si Mina yang mentang-mentang cantik itu, mau menyeret anak saya ke masa depan yang gelap.

"Tidak betul cinta itu buta!" bentak saya kalap. "Kalau cinta bener buta apa gunanya ada bikini," lanjut saya mengutip iklan yang saya sering papas di jalan. "Kalau kamu menjadi buta, itu namanya bukan cinta tetapi racun. Kamu sudah terkecoh, Taksu. Meskipun keluarga pacarmu itu guru, tidak berarti kamu harus mengidolakan guru sebagai profesi kamu. Buat apa? Justru kamu harus menyelamatkan keluarga guru itu dengan tidak perlu menjadi guru, sebab mereka tidak perlu hidup hancur berantakan gara-gara bangga menjadi guru. Apa artinya kebanggaan kalau hidup di dalam kenyataan lebih menghargai dasi, mobil, duit, dan pangkat? Punya duit, pangkat dan harta benda itu bukan dosa, mengapa harus dilihat sebagai dosa. Sebab itu semuanya hanya alat untuk bisa hidup lebih beradab. Kita bukan menyembahnya, tidak pernah ada ajaran yang menyuruh kamu menyembah materi. Kita hanya memanfaatkan materi itu untuk menambah hidup kita lebih manusiawi. Apa manusia tidak boleh berbahagia? Apa kalau menderita sebagai guru, baru manusia itu menjadi beradab? Itu salah kaprah! Ganti kepala kamu Taksu, sekarang juga! Ini!"

Saya gebrakkan kunci mobil BMW itu di depan matanya dengan sangat marah.
"Ini satu milyar tahu?!"
Sebelum dia sempat menjawab atau mengambil, kunci itu saya ambil kembali sambil siap-siap hendak pergi.

"Pulang sekarang dan minta maaf kepada ibu kamu, sebab kamu baru saja menghina kami! Tinggalkan perempuan itu. Nanti kalau kamu sudah sukses kamu akan dapat 7 kali perempuan yang lebih cantik dari si Mina dengan sangat gampang! Tidak perlu sampai menukar nalar kamu!"

Tanpa menunggu jawaban, lalu saya pulang. Saya ceritakan pada istri saya apa yang sudah saya lakukan. Saya kira saya akan dapat pujian. Tetapi ternyata istri saya bengong. Ia tak percaya dengan apa yang saya ceritakan. Dan ketika kesadarannya turun kembali, matanya melotot dan saya dibentak habis-habisan.

"Bapak terlalu! Jangan perlakukan anakmu seperti itu!" teriak istri saya kalap.
Saya bingung.

"Ayo kembali! Serahkan kunci mobil itu pada Taksu! Kalau memang mau ngasih anak mobil, kasih saja jangan pakai syarat segala, itu namanya dagang! Masak sama anak dagang. Dasar mata duitan!"

Saya tambah bingung.
"Ayo cepet, nanti anak kamu kabur!"

Saya masih ingin membantah. Tapi mendengar kata kabur, hati saya rontok. Taksu itu anak satu-satunya. Sebelas tahun kami menunggunya dengan cemas. Kami berobat ke sana-kemari, sampai berkali-kali melakukan enseminasi buatan dan akhirnya sempat dua kali mengikuti program bayi tabung. Semuanya gagal. Waktu kami pasrah tetapi tidak menyerah, akhirnya istri saya mengandung dan lahirlah Taksu. Anak yang sangat mahal, bagaimana mungkin saya akan biarkan dia kabur?

"Ayo cepat!" teriak sitri saya kalap.
Dengan panik saya kembali menjumpai Taksu. Tetapi sudah terlambat. Anak itu seperti sudah tahu saja, bahwa ibunya akan menyuruh saya kembali. Rumah kost itu sudah kosong. Dia pergi membawa semua barang-barangnya, yang tinggal hanya secarik kertas kecil dan pesan kecil:

"Maaf, tolong relakan saya menjadi seorang guru."
Tangan saya gemetar memegang kertas yang disobek dari buku hariannya itu. Kertas yang nilainya mungkin hanya seperak itu, jauh lebih berarti dari kunci BMW yang harganya semilyar dan sudah mengosongkan deposito saya. Saya duduk di dalam kamar itu, mencium bau Taksu yang masih ketinggalan. Pikiran saya kacau. Apakah sudah takdir dari anak dan orang tua itu bentrok? Mau tak mau saya kembali memaki-maki Mina yang sudah menyesatkan pikiran Taksu. Kembali saya memaki-maki guru yang sudah dikultusindividukan sebagai pekerjaan yang mulia, padahal dalam kenyataannya banyak sekali guru yang brengsek.

Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Saya seperti dipagut aliran listrik. Tetapi ketika menoleh, itu bukan Taksu tetapi istri saya yang menyusul karena merasa cemas. Waktu ia mengetahui apa yang terjadi, dia langsung marah dan kemudian menangis. Akhirnya saya lagi yang menjadi sasaran. Untuk pertama kalinya saya berontak. Kalau tidak, istri saya akan seterusnya menjadikan saya bal-balan. Saya jawab semua tuduhan istri saya. Dia tercengang sebab untuk pertama kalinya saya membantah. Akhirnya di bekas kamar anak kami itu, kami bertengkar keras.

Tetapi itu 10 tahun yang lalu.
Sekarang saya sudah tua. Waktu telah memproses segalanya begitu rupa, sehingga semuanya di luar dugaan. Sekarang Taksu sudah menggantikan hidup saya memikul beban keluarga. Ia menjadi salah seorang pengusaha besar yang mengimpor barang-barang mewah dan mengekspor barang-barang kerajinan serta ikan segar ke berbagai wilayah mancanegara.

"Ia seorang guru bagi sekitar 10.000 orang pegawainya. Guru juga bagi anak-anak muda lain yang menjadi adik generasinya. Bahkan guru bagi bangsa dan negara, karena jasa-jasanya menularkan etos kerja," ucap promotor ketika Taksu mendapat gelar doktor honoris causa dari sebuah pergurauan tinggi bergengsi. ***
Mataram, Jakarta, 22-10-01
Jakarta, 31-12-01

Makanan Terkontaminasi? Berikut Cirinya!

Ghiboo.com - Daya saing produsen makanan memang ketat. Tak heran jika untuk menarik konsumen, beberapa diantaranya menambahkan zat-zat kimia berbahaya demi menambah daya tarik atau keawetannya.

Tentu saja, makanan yang sudah terkontaminasi ini mencemaskan masyarakat. Ahli gizi klinis, dr. Samuel Oetoro, MS, SpGK, menyarankan agar masyarakat lebih smart dan pintar menyiasatinya.

Berikut beberapa tip agar terhindar dari mengonsumsi makanan yang terkontaminasi bahan-bahan berbahaya.

1. Jangan pernah membeli makanan dengan warna terang atau kinclong. Biasanya, warna dalam makanan disebabkan penggunaan pewarna.

2. Lihat dan sentuh makanan yang akan dibeli. Jika terasa terlalu lembut atau gurih bisa saja menggunakan penyedap secara berlebihan.

3. Saat membeli ikan atau daging coba cek apakah menggunakan formalin atau tidak. Jangan terkecoh, jika ikan tidak dikerungi lalat maka kemungkinan besar ikan menggunakan formalin.

4. Begitu pula dengan buah dan sayuran. Jika Anda membeli di pasar swalayan, jangan langsung dimakan. Cuci terlebih dahulu dengan air mengalir atau rendam dengan air hangat untuk melunturkan pestisida.

Meskipun kita sering dibuat cemas dengan makanan yang sering dijual karena mengandung bahan-bahan berbahaya, dr. Samuel menegaskan sebenarnya kita tidak perlu terlalu takut.

"Kita dikaruniai hati yang bekerja sebagai detoksifikasi, yaitu menetralkan zat-zat berbahaya yang masuk kedalam tubuh. Kecuali, zat-zat berbahaya tersebut masuk secara berlebihan dan terus-menerus, itu yang berbahaya," jelasnya.

Benda Paling Jorok di Kamar Mandi: Sikat Gigi Anda

“Jika sikat gigi Anda terletak terlalu dekat dengan toilet,” kata ahli mikrobiologi Charles Gerba, PhD, kepada WebMD, “Anda menyikat gigi dengan benda-benda yang terdapat dalam toilet.”

Dia menjelaskan, ketika Anda menyiram toilet dengan penutup terbuka, uap air yang terkontaminasi oleh kotoran dalam toilet menempel di permukaan dalam kamar mandi Anda. Dan itu bukanlah satu-satunya cara kuman mencemari sikat gigi Anda.

Menyikat gigi memang dapat menghilangkan bakteri, sisa-sisa makanan, dan darah, serta air liur yang mungkin terinfeksi virus. Namun jika Anda tidak membilas bulu sikat gigi dengan benar, Anda akan menempatkan sisa-sisa kontaminan tersebut kembali ke dalam mulut Anda pada saat Anda menggosok gigi kembali.

Banyak keluarga menyimpan sikat gigi mereka bersama-sama dalam cangkir atau tempat lainnya — dan ini dapat menyebabkan kontaminasi silang.

Sikat gigi rata-rata merupakan pelabuhan bagi 10 juta mikroba, termasuk kuman seperti virus influenza, herpes simplex I (penyakit yang disebabkan oleh virus herpes) , streptococcus (bakteri penyebab infeksi Streptococcus Grup A), staphylococcus (bakteri yang sering terdapat pada selaput lendir), serta bakteri yang menyebabkan penyakit gusi dan gigi berlubang.

Karena ada banyak jenis kuman, mereka dapat menjadi tempat persinggahan bagi bakteri patogen lebih banyak dari yang ada di dudukan toilet.

“Sikat gigi Anda adalah tempat berkembang biak sempurna untuk bakteri-bakteri ini.” kata Dr. R. Tom Glass, profesor emeritus patologi mulut di University of Oklahoma USA kepada Today. “Ada makanan dan air, dan bulu sikat sendiri menjembatani bakteri-bakteri tersebut masuk ke dalam tubuh Anda.”

Pada dasarnya, kata Tom Glass, “Sikat gigi Anda merupakan wadah bagi bakteri."

Kiat ini akan membantu menjaga sikat gigi Anda, dan mulut bebas dari bakteri berbahaya.

- Jangan meminjamkan sikat gigi dan dan usahakan penempatan sikat gigi Anda dengan sikat gigi anggota keluarga lainnya, setidaknya berjarak 3 cm.

- Bilas dengan bersih sikat gigi Anda setelah selesai menggunakannya.

- Biarkan sikat gigi Anda kering oleh udara setelah digunakan, sebaiknya penempatannya dalam keadaan posisi tegak. Jangan simpan sikat gigi Anda di wadah yang kecil, lembap, serta tertutup.

- Ganti sikat gigi Anda dengan sikat gigi yang baru setelah Anda mengalami pilek atau flu.

- Jika Anda memiliki sistem kekebalan tubuh yang kurang baik, bilas terlebih dahulu mulut Anda dengan obat kumur antibakteri sebelum menyikat gigi. Hal tersebut dapat mengurangi kuman yang akan masuk ke mulut.

- Ganti sikat gigi Anda dengan yang baru setiap 3-4 bulan sekali, atau lebih sering jika Anda merasa bulu sikat sudah tidak baik. Selain dapat mencegah bertumpuknya bakteri, sikat gigi yang baru dapat memberikan daya kekuatan yang baik sewaktu menyikat gigi.

Bagaimana dengan pembersih? The American Dental Association (ADA) mengatakan bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa pembersih komersial dapat sepenuhnya mensterilkan sikat gigi, meskipun merendam sikat gigi dengan obat kumur antibakteri dapat mengurangi banyaknya mikroorganisme.

Mereka menyarankan agar tidak mencoba untuk membasmi kuman pada sikat gigi Anda dengan menempatkan sikat gigi tersebut dalam mesin cuci atau microwave yang dapat merusak plastik.

Dikutip dari : www.yahoo.com

Contoh Artikel Persuasif


Saatnya Pelesir ke Pesisir Tanah Pramuka
Oleh : Andika Wiranata
 
Bicara mengenai destinasi wisata di Jakarta, sederet nama paling banyak diperbincangkan adalah Taman Impian Jaya Ancol, Taman Mini Indonesia Indah, Kebun Binatang Ragunan, Kota Tua, Monas dan museum-museum lainnya. Selain tempat-tempat wisata tersebut, masih banyak obyek wisata menarik lainnya yang bisa ditemui di ibukota negara Indonesia ini, seperti wisata ke pulau-pulau di Kepulauan Seribu. Pulau Pramuka, salah satu pulau yang terdapat di gugusan Kepulauan Seribu, sekaligus merupakan pusat pemerintahan kabupaten administrasi Kepulauan Seribu.
Pulau Pramuka dapat menjadi alternatif dan mencoba suatu pengalaman baru berwisata, selain berwisata ke daerah pegunungan atau puncak. Pulau Pramuka yang dulunya bernama Pulau Elang dapat ditempuh menggunakan kapal transportasi dari Pelabuhan Muara Angke selama 2,5 jam dan kita akan diantar ke dermaga Pulau Pramuka. Kapal Transportasi ini memulai jadwal pemberangkatan pukul 07:00 WIB baik dari Muara Angke atau Pulau Pramuka.
Popularitas Pulau Pramuka mulai menanjak belakangan ini. Pulau Pramuka sendiri merupakan pulau berpenduduk yang mulai berkembang menjadi daerah pariwisata beberapa tahun ini. Kecantikan alam menjadi salah satu daya tarik pulau yang penduduknya terkenal sangat ramah ini.
Wisatawan akan terperangah melihat jernihnya air laut yang biru, terumbu-terumbu karang yang indah dan pulau dengan pasir putih yang menawan, wisatawan juga dapat menikmati tebitnya matahari dan sunset atau tenggelamnya matahari yang indah di pinggir pantai, semua ini yang akan membuat setiap orang yang pernah pergi ke pulau ini ingin kembali lagi ke Pulau Pramuka. Tidak heran jika kecantikan laut dan pantai di Pulau Pramuka sering kali menghiasi foto-foto perjalanan para wisatawan.
 Sebagai pusat pemerintahan Kepulauan Seribu, Pulau Pramuka memiliki fasilitas-fasilitas yang diperlukan warga atau wisatawan mulai dari tempat penginapan atau homestay, rumah makan, rumah sakit, masjid, kantor polisi, dan lain-lain. Kepedulian masyarakat Pulau Pramuka masih sangat tinggi sehingga fasilitas yang ada terawat dengan baik dan membuat wisatawan yang berkunjung ke pulau ini dapat menikmati kenyamanan.
Selain pemandangan indah yang disajikan di Pulau Pramuka, di pulau ini terdapat sebuah penangkaran Penyu Sisik. Penyu-penyu ini dikembangbiakan dan dirawat dalam suatu area khusus. Para wisatawan dapat menyentuh langsung penyu-penyu ini untuk mendapatkan wawasan mengenai penyu. Apabila penyu-penyu ini sudah cukup umurnya, maka mereka akan dilepaskan di tepi pantai Pulau Pramuka.
Selain penangkaran penyu, di Pulau Pramuka juga terdapat penangkaran kupu-kupu. Berbagai jenis kupu-kupu dikembangbiakan di suatu tempat penangkaran yang dikelilingi jaring-jaring halus. Di Pulau Pramuka juga terdapat budi daya rumput laut dan tanaman mangrove. Rumput laut mereka budi daya untuk mereka jual dan menambah penghasilan penduduk setempat. Mangrove-mangrove ini juga dibudidayakan setelah itu akan ditanam di sekitar Pulau Pramuka untuk mencegah erosi.
Wisatawan dapat pula belajar mengenai transplantasi coral. Transplantasi Coral adalah cara membuat terumbu karang buatan. Wisatawan dapat belajar membuat terumbu karang buatan dan menaruh terumbu karang buatan itu ke laut. Terumbu karang ini dilestarikan sebab, sangat berguna bagi kehidupan manusia karena dapat menghasilkan pasir dan mencegah erosi, selain itu juga sebagai tempat tinggal atau rumah beragam biota laut, seperti ikan. Tranplantasi coral ini hanya untuk membantu tumbuh kembang terumbu karang agar lebih cepat tumbuh dan tentunya menambah keelokan dasar laut Pulau Pramuka.
 Hal menarik lain yang dapat ditemui di Pulau Pramuka adalah penduduk Pulau Pramuka memiliki keunikan. Penduduk Pulau Pramuka terdiri atas beberapa suku pendatang yang paling dominan adalah suku bugis, lalu disusul suku jawa, sunda, dan madura atau sebagian penduduk mereka adalah migasi dari beberapa pulau lain di Kepualaun Seribu. Sehingga dapat dikatakan suku yang mendiami Pulau Pramuka semuanya adalah suku pendatang. Keunikan ini membuat kita berpikir bagaimana mungkin pulau yang tidak lebih luas dari jabodetabek ini, dapat didiami oleh suku bugis yang daerah asalnya terdapat di Sulawesi Selatan, serta pulau ini dapat didiami oleh bermacam-macam suku pendatang.
Keragaman suku pendatang di Pulau Pramuka membuat mereka memiliki kekhasan bahasa dalam dialog mereka sehari-hari. Sebagian orang yang baru datang mungkin akan terheran-heran dengan bahasa mereka, wisatawan mungkin akan berfikir bahwa kenapa bahasa mereka lain sekali sama sekali tidak ada logat betawi padahal, mereka masih bagian dari provinsi DKI Jakarta yang sangat kental dengan logat betawinya. Inilah salah satu lagi dari keunikan yang terdapat di Pulau Pramuka.
Selanjutnya, yang luar biasa dan membuat setiap wisatawan merasa betah dan nyaman di pulau ini adalah keramahan penduduk sekitar yang sering membantu, menyapa dan tersenyum kepada para wiasatawan. Memang sudah menjadi kebiasaan penduduk untuk saling membantu sesama karena hubungan persaudaraan mereka yang masih sangat erat antara warga satu dan yang lain. Ini membuat wisatawan sangat nyaman berwisata di Pulau Pramuka.
Di Pulau Pramuka, wisatawan tidak usah repot-repot untuk mencari buah tangan untuk dibawa pulang ke rumah. Pulau Pramuka menawarkan banyak jajanan dan pernak-pernik yang bisa dibawa pulang. Panganan khas dari Pulau Pramuka yang dapat dijadikan oleh-oleh, seperti dodol rumput laut, kerupuk ikan, ikan asin, keripik sukun, dan yang paling khas, yaitu pempek pulo yang terkenal ajib. Masakan di pulau ini, selalu berhubungan dengan ikan karena penduduk di Pulau Pramuka belum merasa makan sebelum mereka makan ikan. Pastel, Risol, Lontong pun berisikan ikan. Rumah makan di Pulau Pramuka yang terkenal adalah Rumah Makan Nuansa Ayu Karamba yang menawarkan berbagai jenis hidangan laut yang lezat, seperti berbagai jenis hidangan Ikan Bandeng.
Selain panganan yang dapat dijadikan buah tangan, pernak-pernik dari kerajinan tangan penduduk sekitar dapat pula dijadikan bingkisan menarik dari Pulau Pramuka ini. Pernak-pernik kerajinan tangan yang berasal dari kerang-kerang laut, kertas daur ulang, dan benda-benda laut lain dibuat menjadi hiasan kamar, kalung, gelang, dan lain-lain
Seolah tidak ingin ketinggalan, yang menjadi poin utama di Pulau Pramuka ini adalah gugusan terumbu karang yang tersebar di sekitar Pulau Pramuka. Di Pulau Pramuka, wisatawan dapat menyewa peralatan snorkling atau diving dengan didampingi oleh instruktur yang profesional untuk melihat keindahan terumbu karang yang berwarna-warni secara langsung dan ikan-ikan hias yang berenang di sekitar kita juga di sekitar terumbu karang yang sangat indah. Snorkling di Pulau Pramuka sangat menyenangkan karena di Pulau Pramuka terdapat kawasan yang disebut soft coral, yaitu spot atau tempat yang terbaik untuk snorkling karena tidak terlalu dalam, sehingga batu karang, dan ikan hias dapat dilihat langsung dengan indah. Selain itu, wisatawan juga bisa bermain banana boats serta, melepas tukik atau anak penyu di Kolam Labuh Pramuka. Pengalaman Anda snorkling dan beragam keunikan Pulau Pramuka akan menjadi pengalaman yang tidak terlupakan dalam hidup Anda. Oleh karena itu, lengkapilah liburan Anda dengan wisata pintar, menikmati sekaligus melestarikan keindahan alam di Tanah Pramuka!
 

Contoh Artikel

Opera Batak

Oleh : Andika Wiranata

Indonesia adalah negeri dengan segudang seni dan kebudayaan yang khas dan menarik. Seni dan kebudayaannya sangat beragam, dan unik mulai dari tarian, lagu-lagu daerah, adat istiadat, teater-teater atau drama-drama tradisional, dsb. Salah satu kesenian yang ada di Indonesia adalah pertunjukan drama tradisional semacam opera. Seperti kita kenal di daerah jawa, ada ludruk, ketoprak, pementasan wayang orang, lenong betawi, dsb. Namun, tidak hanya di daerah jawa, di sumatra pun ada pertunjukan semacam itu, tepatnya di Sumatra Utara, orang di daerah sana mengenal dengan sebutan “Opera Batak”. 

Opera batak mungkin agak sedikit asing apabila di telinga orang awam. Iya, ini adalah sebuah genre teater Batak populer, yang dikembangkan dari sekitar 1925 dan seterusnya, yang terinspirasi oleh kelompok-kelompok teater Melayu dan dipopulerkan berkeliling di daerah Sumatera. Opera batak seperti jenis-jenis pementasan drama tradisional lainnya, banyak sekali diselingi oleh humor-humor segar yang menggelitik.

Jenis kesenian teater rakyat ini ternyata sempat merajai dunia hiburan di Sumatera Utara. Hingga dekade 1980-an, opera batak merupakan tontonan menarik meski diadakan di lapangan terbuka. Musik pengiringnya uning-uningan atau seperangkat alat musik tradisional batak yang terdiri dari serunai, kecapi, seruling, garantung, odap dan hesek. Panggungnya sederhana namun cukup unik. Bentuknya menyerupai rumah adat Batak dan diberi hiasan gorga (ukiran khas batak) serta nama operanya.
Opera batak ini  di Pulau Jawa mirip ludruk atau wayang wong (wayang orang), opera Batak biasanya berkeliling dari desa ke desa. Sasarannya tentu desa yang baru selesai panen dengan tujuan agar peluang menyedot penonton lebih terbuka. Mengingat dunia hiburan jaman dulu terbilang langka tidak heran bila kehadiran opera selalu ditunggu-tunggu masyarakat.
Namun, di tahun 1988 beberapa kelompok opera batak sedikit demi sedikit menghilang dari peredaran. Ada semacam peralihan dunia hiburan semenjak televisi sudah mulai masuk ke pelosok-pelosok daerah. Lalu masyarakat kurang lagi tertarik oleh pementasan-pementasan semacam ini dan mulai meninggalkannya.
Melihat kondisi ini, Mauly Purba terpanggil untuk membangkitkan kembali Opera Batak dengan berupaya melakukan revitalisasi. Berbagai upaya dia lakukan untuk menghidupkan kembali pertunjukan asal Desa Situmeang, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) itu. Hingga kemudian dia didaulat mendapatkan gelar Ompu Pande Panggual Tuan Naboro Namangunghal Opera Batak. 
Ketika itu dia bersama maestro sekaligus pemain opera batak, Marsius Sitohang dan Thompson HS berupaya mewujudkan program revitalisasi opera batak dengan mendirikan pusat latihan, di Tarutung, Taput. Beruntung, pendirian pusat latihan ini didukung oleh Bupati Taput RE Nainggolan.
Dari hasil pusat latihan itu berdiri sebuah grup percontohan opera batak bernama Grup Opera Silindung (GOS). Grup ini pernah pentas keliling di Sumut dan Jakarta
bahkan, sampai ke Melbourne, Australia.
Revilitasi ini terus dilakukan guna melestarikan kebudayaan asli daerah dan Indonesia pada umumnya. Mereka menggelar petunjukan di Taman Ismail Marzuki dan di berbagai kampus-kampus di Indonesia. Upaya ini akan terus dilakukan tanpa kenal lelah, dan ternyata yang terlibat dalam opera tersebut tidak hanya orang batak saja, orang jawa, sunda, dan suku lainnya juga ikut terlibat dalam pelestarian opera batak ini.
Pada bulan April tepatnya tanggal 2 April, opera batak di bawah asuhan sutradara Thomson HS ini melakukan pementasan opera batak di Universitas Indonesia. Pertunjukan dimulai pada pukul 13.00 WIB, dibuka dengan sajian presentasi berupa tayangan-tayangan orang-orang yang pernah berkecimpung atau bahkan masih berkecimpung di dunia opera batak ini.
Opera batak kali ini berjudul “Mencari Si Jonaha”, berlangsung sangat seru, petunjukan ini disaksikan tidak hanya dari mahasiswa Universitas Indonesia saja yang hadir namun, juga dari mahasiswa lain seperti, UNJ, dan para pemerhati budaya, juga tentunya orang-orang dari suku batak yang masih menggemarinya.
Opera ini bercerita tentang Jonaha yang bisa memainkan hosabi, dan seketika dia memainkan ladang pun menjadi bersih. Jonaha pergi meninggalkan ibunya dan sudah bertahun-tahun tidak pulang menemui ibunya. Jonaha yang sebenarnya bernama Jinaka (bahasa batak karo)  mengubah namanya menjadi Jonaha (bahasa batak simalungu).
Hingga bertahun-tahun lamanya, banyak orang yang mengangggap bahwa Jonaha telah meninggal. Namun, Ibu Jonaha tidak percaya dengan kabar yang tidak jelas itu. Ibu Jonaha berusaha untuk mencari Jonaha, sampai suatu ketika  Ibu Jonaha bertemu dengan dua orang pemuda yang bersedia untuk membantu mencari Jonaha. Kedua pemuda itu mendengarkan ciri-ciri Jonaha dari sang ibu tersebut, tapi sebelum mereka berangkat mereka meminta imbalan berupa makanan sebagai upah mereka mencari Jonaha.
Mereka pergi ke Samosir, Samanirdo, mereka mendayung melewati Danau Toba dengan perahu curian yang mereka temukan sebelum mereka berangkat. Sesampainya disana, mereka menenggelamkan perahu tersebut untuk menghikangkan jejak mereka. Setelah sampai, mereka beristirahat di warung kopi. Mereka bertemu dengan pemilik kedai kopi tersebut yang ternyata mengetahui tentang tindak-tanduk seorang Jonaha, diceritakan oleh pemilik kedai bahwa Jonaha banyak melakukan penipuan di Pulau Samosir .
   Setelah itu kedua pemuda tersebut pergi ke barat, melanjutkan perjalanan mencari Jonaha. Mereka bertemu inang dalam perjalanan itu, dan memberi tahu bahwa  Jonaha berada di Tanah Karo. Kedua pemuda tersebut tidak melanjutkan perjalanan tapi, kembali ke tempat Ibu Jonaha untuk mengabarkan hasil pencarian mereka selama ini. Setelah itu, Ibu Jonaha bersedia memberikan semua hartanya kepada kedua pemuda tersebut asal mereka bisa menemukan kembali si Jonaha. Bergegaslah kedua pemuda itu ke Pak-Pak untuk menemukan Jonaha. Sesampainya disana mereka bertemu dengan seorang kakek yang memberi petunjuk dimana Jonaha berada, dan akhirnya mereka pun bertemu dengan Jonaha.
Petunjukan ini sangat menghibur, karena tidak hanya menampilkan opera semata, tapi diselingi oleh beberapa tarian juga humor-humor segar. Pertunjukan pun ditutup dengan tarian khas dari daerah Sumatra Utara. Pertunjukan Opera Batak ini memberi kita banyak sekali pengetahuan tentang budaya batak, yang sebelumnya kita sangat awam. Sebutan untuk memnggil orang, tarian, perbedaan diantara bahasa-bahasa batak, dan lain-lain. Setelah itu pertunjukan diakhiri dengan sesi tanya jawab yang sangat ditanggapi dengan antusias oleh para penonton. Semoga kelestarian seni dan budaya Indonesia tetap terjaga dengan baik dan dapat menjadi tuan rumah di negerinya sendiri.   

Contoh Feature


Soal UN Bocor ?
Oleh : Andika Wiranata
Sore hari ketika Wira sedang santai minum teh di teras dan ditemani biskuit kelapa yang renyah, tiba-tiba Arini, adik dari Wira tiba-tiba berteriak sambil menuju ke teras, “Hore..”, “Kenapa lu, Rin?” Wira langsung menyambut dengan pertanyaan  heran. “Ini kak, di televisi katanya soal Ujian Nasional bocor.. Asik..” jawab Arini. “Mang iya? gak mungkin bisa bocor lah orang diperketat pembuatan soalnya” tandas Wira. “Ih.. kaka batu.. tu liat aja di televisi tu, lagi pada hangat bahas soal kebocoran soal UN” Arini mencoba membela diri.
Seketika Wira langsung segera menaruh gelas teh, dan menuju ruang keluarga untuk melihat televisi yang sedang menayangkan berita soal kebocoran soal UN. “Mana dek ini cuma isu tuh..” Wira seraya menatap adiknya dengan sinis. “Yah, kaka biarin aja napa, buat adiknya seneng, minggu depan kan Arini UN kaka.. kaka mau adiknya yang cantik ini stres? Kaka juga pernah kan UN, kan?” Arini menjawab dengan nada yang kekanak-kanakan. “Iya, gue ngerti kok gimana tegang-tegangnya pikiran di detik-detik menjelang UN, gue juga pernah... Waktu gue SMA dulu juga isu kaya gitu sering muncul dan setiap tahun pasti ada” Wira dengan tenang menjelaskan.
Arini pun terdiam sejenak dan duduk lemas di samping kakanya, “Udah dek.. tenang aja... kaka yakin kok kamu bisa, kamu kan cantik juga pinter, kan?” Wira mencoba menghibur adiknya. “Emang waktu kaka UN, gak ada bocoran apa?” tanya Arini. “Ada, tapi kaka percaya sendiri sama kemampuan kaka sendiri dan doa kaka, gitu dek..” Arini mulai mengerti dan memikirkannya, Arini pun mengganti stasiun televisi untuk melihat acara berita yang lain. “Udah dek.. sekarang kamu belajar dan berdoa ya dek untuk minggu depan.. Jangan dipercaya kalau ada kunci-kunci jawaban gitu” Wira menasihati adiknya yang manja.
Keesokan harinya, tepatnya hari minggu, Wira membaca koran langganan ayahnya. “Rin.. rin.. bangun dong..” sambil ke kamar Arini dan membangunkan adiknya. “Apaan si ka?” jawab Arini sambil mengusap-usap matanya. “Ini dek headline di koran, liat deh..” Wira manunjukan halaman depan koran dengan judul yang dicetak tebal yang berjudul “WAMEN MENJAMIN SOAL UN TIDAK BOCOR”. Lalu Wira juga tidak menunjukan hanya satu koran saja, tapi dua koran yang headline utamanya hampir sama dengan koran yang pertama, di koran yang kedua berjudul “MENDIKNAS MENJAMIN PENDISTRIBUSIAN SOAL UN”, dan di koran yang ketiga bertuliskan “SOAL UN DIKAWAL KETAT APARAT”. “Tuh.. liat kan Rin..” Wira sambil mengusap-usap kepala adiknya.
“Oh.. iya ya.. ka..” Arini mengiyakan pernyataan kakanya itu. “Sekarang kamu banyak belajar ya dek.. jangan peduliin berita-berita dan rumor-rumor yang tidak jelas, tidak hanya di koran dan televisi yang ramai membicarakan soal kebocoran soal UN ko, di dunia maya dan jejaring sosial juga rame membicarakan soal UN yang bocor” tandas Wira kepada adiknya.
Akhirnya Arini bangun dari tempat tidurnya dan mulai membaca dengan seksama headline-headline yang ada di koran-koran tersebut. “Emm.. iya.. ka.. disini ditulis pendistribusian soal-soal UN dijaga dan dikawal oleh aparat berwenang juga setelah sampai di sekolah-sekolah pun, ruangan tempat menyimpan soal pun disegel rapat dan dijaga oleh aparat kepolisian, juga pembuatan soal UN tahun 2012 sekarang hanya dilakukan oleh empat perusahaan, tidak seperti tahun lalu yang masing-masing propinsi mencetaknya sendiri” Arini menceritakan.
Wira dan Arini pun akhirnya membaca headline-headline di koran itu dengan seksama dan penuh perhatian. Mereka pun berkesimpulan bahwa itu semua cuma sekadar isu yang memang setiap tahun menjadi bumbu pendamping dalam pelaksanaan Ujian Nasional. Arini pun mulai sadar kalau dia harus percaya pada kemampuan dirinya sendiri dan juga oleh doanya.
 Lalu, di jejaring sosial pun juga ramai diberitakan tentang kebocoran soal UN, banyak komentar-komentar mengenai hal itu. “Tuh dek bener kan dek dimana-mana pada sibuk urusin soal bocor, situasi kaya gini yang dimanfaatin segelintir orang untuk mangambil keuntungan dek” Wira manjelaskan. “Iya ka.. Arini bakal berusaha dan berdoa juga percaya sama kemampuan Arini sendiri ko kak”, “Gitu dong, Rin” sahut Wira. 
Ternyata benar apa yang dikatakan kakanya, ketika UN dilaksanakan pada hari pertama, Arini menerima sms kunci jawaban yang sumber pengirimnya tidak jelas dari mana pengirimnya. Akhirnya UN pun kelar dan Arini menjawab semua pertanyaan dengan kemampuannya sendiri dan tidak terpengaruh dengan kunci-kunci jawaban yang beredar luas dimana-mana itu.